Starcraft: A Specialist (In Indonesian Language)

Chapter 1 : The Convert Lab

Namaku Patricia, hanya Patricia. Aku sebatang kara… mungkin. Aku tidak tahu siapa ayahku, keluargaku, bahkan diriku sendiri. Yang kutahu hanyalah aku kelinci percobaannya Confederacy.

Aku dan sahabatku Kerrigan, temanku satu-satunya muncul begitu saja disini, di laboratriumnya confederacy, ditanami mesin-mesin aneh. Sampai saat ini aku tidak bisa mengerti mengapa merela menyiksa kami, aku baru berumur 13 tahun.
Sarah Kerrigan berumur 14 tahun, setahun lebih tua daripadaku. Dia sungguh penuh dengan semangat, kelakuannya membuatku jarang menangis namun aku tahu apa yang ia rasakan, dia ketakutan sama seperti diriku, dia ingin lari dari mimpi buruk ini sama seperti diriku, namun kami hanya anak-anak kecil yang tak berdaya.
Disini benar-benar membosankan. Mungkin orang-orang yang tidak pernah ‘dikandangi’ akan mati karenanya. Tidak ada peralatan apapun untukku, tidak ada boneka, tidak ada mainan, tidak ada TV, tidak ada komputer, kalaupun ada aku tidak boleh menikmatinya. Tidak boleh lari-larian, tidak boleh bermain, tidak boleh bicara yang tidak perlu, yang kudapatan hanyalah latihan.
Duke, jenderalnya confederacy bilang kami adalah ghost – pasukan special. Kamilah ghost yang paling pertama dibuat namun itu tidak membuat kami bangga, itu membuat kami menderita namun ilmuwan-ilmuwan itu tidak mempedulikan perasaan kami itu… Menurutku ilmuwan-ilmuwan itu lebih jahat daripada Zerg. Zerg menyerang karena lapar atau terganggu namun confederacy perang dan membunuh untuk memuaskan nafsu mereka tanpa mepedulikan orang lain.
Hari ini aku mencapai nilai 80 di latihan, masih dibawah nilai Kerrigan, Dia mendapat nilai sempurna, 100. Hal itu membuatnya mendapat perhatian lebih dan… membuatnya tambah MENDERITA… Ilmuwan-ilmuwan itu menanamkan lebih banyak ‘benda’ di Kerrigan karena kemampuannya itu. Aku mengkhawatirkannya namun ia tidak pernah menangis sedikitpun karena semua yang confederacy lakukan padanya.
Sudah lewat tengah malam ternyata, namun aku tidak bisa tidur… Tidak ada apapun yang terjadi namun aku cemas. Aku merasa akan ada hal buruk yang terjadi. Namun aku berada di lab, apa yang mungkin terjadi? Aku tidak bisa menenangkan diriku maka aku bangun untuk mengambil segelas air, semoga saja dengan itu aku bisa tenang.
Hal yang buruk benar-benar terjadi!... Zerg masuk ke lab ini dan membunuh semuanya… Aku mendengar teriakan orang-orang kehilangan nyawa dan lolongan yang jelas-jelas bukan suara manusia… Aku mendengar ilmuwan-ilmuwan lari dan berteriak, tembakan security, dan auman Zerg.
BRAAK! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri beberapa ekor hydralisk masuk dan bersembunyi disini, diikuti security-security marine. Saking takutnya gelas yang kugenggan jatuh dan pecah namun hydralisk-hydralisk itu tidak peduli. Aku tidak mampu bergerak ataupun berteriak, hanya mematung dan menyaksikan. Empat ekor hydralisk melawan sepuluh marine dengan stim pack sekali.
Security-security itu mulai menyerang, hydralisk-hydralisk itu mulai melontarkan needle spines dari kepalanya yang panjang. Lontaran bunga api dari senjata para satpam membuatku tertegun lalu tiba-tiba hilang bersamaan dengan suara jiwa lepas dari badan. Kupikir para security menang namun… jelas-jelas kulihat hydralisk-hydralisk itu berada di atas mayat para security dan mendesis senang.

Bukan! Mereka bukan hydralisk! Hydralisk akan mati dalam sekitar lima belas tembakan marine namun mereka kebal! Mereka pasti hunter killers, pahlawannya hydralisk! Lalu satu diantara mereka menatapku namun kemudian ia masa bodohg. Saat control atas tubuhku kembali, secepat mungkin aku cloaking.
Aku tetap berada di ruangan itu, terduduk di lantai dengan jantung yang hampir lepas. Kutahan diriku untuk tidak menangis, berteriak, ataupun lari membabi buta. Bisa saja mereka menungguku bereaksi.
Aku tidak memiliki senjata apapun dan tidak memiliki sedikitpun pengalaman dengan pahlawan Zerg itu. Mereka tetap di tempat dan menggerak-gerakan kepalanya seperti cemas, menunggu sesuatu entah apa.
Night Crawler, itu panggilanku bagi hunter killer-hunter killer tersebut. Merangkak—merayap di tengah malam dan menyerang di etmpat yang tenang dan tak diduga-duga! Tapi mereka tetaplah Zerg bodoh yang butuh perintah dari cereberate. Dan, jangan lupa, cereberate dapat mudah ditaklukkan.
Laboratrium ini sudah dikuasai mereka. Aku tidak mempunyai kesempatan untuk kabur dari monster-monster yang memiliki penciuman dan insting yang tajam itu. Kerrigan merangkak mendekati dan duduk di sampingku. Karena kami sudah selayak saudara dan tidak pernah bertengkar, kami bisa saling merasakan satu sama lain. Aku bisa merasakan kehadirannya yang cloaking seperti kemampuan anak-anak kembar identik.
Bantuan dating untuk menginjak-nginjak para serangga ganas it. Dua belas marine dan enam firebat dengan dua kali stim pack. Hujan needle spines dan peluru memenuhi ruangan ini seperti kembang api hijau dan kuning. Aku dan Kerrigan bersembunyi dibalik locker anti peluru Para firebat meloncat ke depan dan mulai membakar para zerg yang lari ketakutan dengan flame thrower yang terisi penuh dan panas membara. MEMBAKAR Zerg, membakar laboratrium. Mereka pasti bukan dari confederacy sebab tentara confederacy sudah dilatih untuk berperang tanpa mengorbankan barang-barang pemerintah. Siapakah mereka? Apa maksud dari kedatangan mereka? Aku mulai merinding takut seandainya mereka bermaksud mengagalkan proyek ghost dan membunuh kami berdua karenanya.
Tidak sampai semenit laboratrium sudah aman dari zerg. Mayat para hunter killer meleleh karena terbakar api yang begitu panasnya. Namun aku masih merasa ketakutan, bahkan lebih takut daripada tadi. Apakah mereka kawan atau lawan? Aku bisa merasakan Kerrigan ketakutan pula lalu ia bertelepati padaku,

Kumatikan generator cloaking seperti yang Kerrigan juga lakukan. Kami berpegangan tangan, takut dan cemas, lebih cemas daripada hari-hari kami dengan para ilmuwan. Setiap hari kami mencemasi akan apa yang ilmuwan-ilmuwan ‘tambahkan’ pada diri kami. Kini kami lebih takut lagi, takut akan kematian... Bersama-sama dan perlahan-lahan kami keluar dari persembunyian kami.
Orang-orang itu melihat kami, saling berpandangan dan berdiskusi. Tak lama kemudian salah satu dari antara mereka keluar untuk memanggil orang di luar. Mungkinkah ia memanggil orang confederacy??? Lalu seseorang berpakaian komandan masuk dikawal oleh dua orang ajudan. Ia mendekati kami.
“Wah! Hallo gadis-gadis kecil.”
Kami terlalu takut untuk menyahut namun akhirnya Kerrigan menyapa orang itu dengan senyumnya.
“Namaku Arcturus Mengsk, senang berjumpa kalian!”
Kami tersenyum, rasa takut kami dengan cepat memudar. Kurasa tidak perlu takut menghadapi orang yang ramah ini. Namun itu perkiraan awalku... Aku mendengar ‘hmm’ sepintas dari mulutnya lalu... ia mengambil sahabatku--saudaraku satu-satunya... dia mengambil Kerrigan. Ia mengangkat Kerrigan tinggi di atas kepala lalu menggendongnya.
“Ayo pergi!” katanya pada orang-orang itu.
“Tunggu.... Aku ingin ikut juga...”
Namun mereka tidak mendengar suaraku, atau mungkin sengaja tidak menggubrisku. Mereka mengambil satu-satunya temanku dan meninggalkanku sendirian disini. Aku tidak bisa berkata apapun lagi ataupun menangis. Hanya diam di tengah gelapnya laboratrium. Mengapa mereka tidak mengambilku pula? Dalam kepalaku langsung terpintas ‘Akan kubalas orang itu. Akan kubalas Arcturus Mengsk’.
Kujatuhkan diriku ke lantai, berlutut disitu dan mulai menangis. Suara tangisku bergema pelan di laboratrium yang kosong. Aku seorang diri disini. Kerrigan... Pintu lanoratrium sudah kembali terkunci--otomatis. Lagipula aku tidak berani keluar sendirian. Diluar sana pasti kota, aku sering mendengar kebisingannya. Aku tidak tahu apalagi yang akan dilakukan confederacy bila mengetahui aku coba-coba kabur. Kerrigan merasakan kesedihan dan ketakutanku dan mulai bertelepati,

Aku ditinggalkan sendiri walau sekarang aku sudah berhenti menangis. Sendiri namun hanya beebrapa jam. Confederacy dengan mudah menggantikan ilmuwan-ilmuwan yang mati dengan yang baru untuk mengurusku. Mengurus bukan merawat. Aku tetap di kandang ini tanpa seseorang yang bisa menghiburku, namun aku akan bertahan.
--End chapter 1

Chapter 2 : A Hope between Dust

Sudah dua tahun sejak Kerrigan meninggalkanku. Dan sekarang aku sudah menyelesaikan seluruh latihanku. Aku tidak perlu latihan lagi. Aku punya cloaking, lockdown, bahkan mereka telah emngajarkanku cara menjatuhkan nuklir walau hanya teori.
Bukannya aku menyombong, tapi akulah ghost yang pertama kali berhasil, lalu? Confederacy menciptakan lebih banyak ghost lagi! Mengambil anak-anak kecil dan menjadikan mereka ghost sepertiku.
Aku mencoba untuk mendekati anak-anak itu untuk memberikan saran dan menguatkan hati mereka tapi emreka malah mencemohhku. Mereka bilang aku manusia kabel lha... Padahal aku bermaksud menolong mereka... Sekarang kubiarkan saja mereka nangis meraung-raung, bukan urusanku!
Siang ini kuhabiskan dengan melamun, melihat keluar jendela ke arah kota yang ramai, damai, dan menyenangkan. Tiba-tiba ada yang menepuk punggungku. Itu sang Jendral keparat--Edmund Duke.
“Patricia, besok kau akan kami kirim ke Antigan. Disana puncak tugasmu menanti, nuklirlah perbatasannya!”
APA!? Menuklir?... Aku bisa ikut mati!
“Tapi paman... Kupikir... Aku belum siap untuk itu!”
Ia menyeringai kesal lalu berteriak-teriak sambil mencekikku,
“KAU TIDAK BUTUH SEDIKITPUN PERSIAPAN! INGAT KAU SEORANG GHOST! HIDUPMU TIDAKLAH BERHARGA DAN MILIK CONFEDERACY! HIDU PDAN MATIMU TERGANTUNG KEPUTUSAN CONFEDERACY! Bah, Kerrigan memang lebih baik daripadamu, lebih penurut. Sayang para perompak mengambilnya, kalau tidak kau sudah kuubunuh dari dulu.”
Aku terlalu takut untuk menjawab tapi ia sudah yakin aku takkan membantah lagi. Maka iapun meninggalkanku. Oh tidak..! Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku hanya seorang ghost... Hanya... Akan lebih baik kalau aku seekor zergling, masih bisa melawan perintah bunuh diri itu... Mengapa aku tidak bisa menikmati hidup normal seperti anak-anak yang di luar sana? Mengapa takdirku begitu kejam? Aku tidak memiliki hak sedikitpun...
Mereka memperlakukanku lebih kejam daripada memperlakukan seorang tahanan... Aku ingin berontak namun aku tidak memiliki sedikitpun peralatan, kekuatan, ataupun teman yang menyemangatiku. Kerrigan... Dimana ia sekarang...? Apakah hidupku sebegitu tidak berguna?
Malamnya aku tidak bisa tidur nyenyak, mimpi buruk menghantuiku. Aku memimpikan ternuklir di Antigan dan dikepung jiwa-jiwa orang mati yang marah padaku.
***
Ini hari terakhirku. Pagi ini aku makan daging sapi dingin yang keras disertai buncis dan wortel yang dingin dan agak keras. Namun aku mencoba menikmati untuk terakhir kalinya. Seperti itulah makanan untuk ‘tahanan’ sepertiku, langsung dari kulkas dan hanya dihangatkan sejenak. Sedangkan para ilmuwan mendapatkan makanan-makanan yang hagat dan enak.
“Akh...!”
Seorang anak berlari dan menubrukku. Makanan yang baru sebagian kumakan jatuh ke lantai. Anak itu menoleh lalu menertawakanku sambil terus berlari.
Terpaksa kubuang. Tak mungkinkuminta makanan lagi dan tak mungkin kumakan makanan yang jatuh itu. Lantai laboratrium ini kotor oleh zat-zat kimia yang cukup berbahaya. Aku masih ingat dulu makananku jatuh dan meminta makanan lagi ke kepala koki, seorang ibu-ibu gendut yang menjijikan. Dan yang ia berikan adalah sejumlah tamparan dan makian. Yah lebih baik hari terakhir tanpa makanan daripada sakit perut.
“Patricia!”
Oh, itu suara Duke... Pasti aku harus berangkat sekarang. Yeah memang aku harus berangkat sekarang. Sebuah dropship sudah menunggu. Dan secepat mungkin aku naik namun aku masih saja dikatai lambat... dan ditempeleng...
Inilah Antigan minor, perbatasannya Negara Antigan. Dropship yang tadi mengangkutku tinggal landas, memberiku debu cma-cuma. Kupanjat sebuah tebing dan melihat sekeliling juga menyaksikan keindahan tepi langit yang hitam kekuning-kuningan.
Kuatur teropong di helmku, menarget sasaran untuk mendapatkan penglihatan yang lebih jelas. Bunker diselingi turret lalu arclite siege tanks dengan kondisi siaga di depannya, itu formasi yang menguntungkan bagiku--namun itu strategis di masa yang ‘tidak ada’ unit cloaking berbahaya seperti ghost. Menguntungkan sekali bagi Confederacy... Unit-unit cloaking yang ada hanyalah wraith dan Zerg darat yang kecil, umm mereka masuk ke tanah.
Di balik pertahanan itu para lelaki menuju ke kantor, ibu-ibu ke pasar, anak-anak berlarian menuju sekolah dengan gembiranya. Mereka semua akan kena nuklir juga... mereka yang tidak berdaya...
Agak jauh di sebelah kiriku, beberapa protoss zealot bersiap-siap meninggalkan planet ini. Lima zealot, satu probe, dengan dua shuttle, mungkin mereka mau balik ke tanah air mereka--Aiur.
Aku mendesah sejenak. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus keperbuat demi keselamatanku. Aku hanya anak takdir... Jiwa remajaku tidak bisa berontak dan sudah ditekan, dibuang ke dalam lubang yang dalam. Depresi. Aku mulai menjalankan misiku. Kuisi senapanku dengan beberapa peluru C-10 yang berukuran 25mm. Menchek ulang semua peralatan, menyalakan generator cloaking dan turun ke bawah sana. Kutarik nafas dalam-dalam.
--Nuclear Launch Detected--
Never known what hit them. Namun warga-warga sipil itu panik dan mulai berlarian tak tentu arah. Kulihat ke langit, aku bisa melihat bom nuklir yang akan menimpa mereka! Mencabut nyawa mereka dan juga nyawaku.
Secara reflek aku mulai berlari, aku masih ingin tetap hidup! Lari dan lari dan lari! Aku bisa mendengar suara ledakan yang bergemuruh, aku masih merasakan tubuhku... Waw! Aku selamat! Setelah itu aku menghancurkan lokator, confederacy takkan memilikiku lagi dan kuharap ini akan berlangsung selamanya. Aku bebas sekarang! Namun kemudian aku kembali putus asa, karena tidak tahu mesti pergi kemana... Tidak ada tempat bagiku... Dengan langkah lesu aku meninggalkan tempat itu.
Mungkin semestinya kubiarkan saja hidupku berakhir disana... namun aku tidak tahu apa yang terjadi setelah mati, apakah kehidupan kedua? Orang-orang di confederacy pernah menceritakan padaku tentang surga dan neraka. Surga untuk mereka, neraka untukku, itulah kata mereka, Bah!
Seekor kadal menubruk kakiku, ohh aku masih cloaking. Kuingin mematikan generatornya namun tak jadi, bahaya kalau tentara-tentara Antigan itu menemukanku. Di ujung sana para Zealot masih belum berangkat, memberiku sebuah ide konyol. Kumatikan generator cloaking dan menghampiri mereka,
“Tuan-tuan Zealot, bolehkah saya ikut dengan kalian?”
Salah satu diantara mereka menjawabku dengan telepati, lucu sekali melihat permata diatas kepalanya bercahaya ketika ia bertelepati.

Mereka saling berpandangan lalu salah satu dari mereka melihay ke arahku.

Gadis kecil yang manis, heh? Ini pertama kalinya ada yang menghormatiku seperti itu. Kini aku ikut dengan mereka, jadi sejak saat itu aku tinggal dengan Protoss. Aku akan tinggal di tanah hijau yang damai, Aiur.
--End chapter 2

Chapter 3 : The Great Judicators

Mereka merawat dan membesarkanku ebagai Protoss bukan sebagai Terran. Mereka ajarkan kebudayaan mereka, Dewa mereka, aturan Khala’s yang agung, dan hal-hal lainnya. Mereka berikan aku izin untuk ikut berdoa di Citadel of Adun walaupun mereka tak pernah mengizinkanku memasuki kuil-kuil suci mereka-- itu bukan masalah.
Aku mempelajari ilmu-ilmu sihir mereka seperti telepati, psionic storm, dan masih banyak lagi. Dan suatu kebetulan; guru sihirku adalah High Templar yang hebat dan berwujud Zealot, Fenix.
Fenix sangatlah bijaksana, baik, dan tenang. Mukanya memang terlihat dingin tapi ia tidak seperti itu. Ia terlihat seperti sudah tua padahal umurnya baru 386 tahun-- itu muda untuk kaum Protoss- mungkin 28 tahun ukuran umur Terran. Bangsa Protoss hidup abadi dan awet muda selama tidak ada hal yang membunuhnya seperti peluru, cakar-cakar tajam, dan racun.
Sudah pasti sangatlah susah untuk mengajar seorang Terran yang hidup di dunia teknologi tentang sihir tapi dia tidak pernah kehilangan kesabaran dan memukulku. Sebagai Ghost, aku bisa menggunakan telepati tapi aku sama sekali tidak tahu betapa pentingnya telepati itu, terutama untuk kaum Protoss yang tidak memiliki mulut.
Aku tinggal di Antioch, salah satu kota termegah di Aiur. Tapi ibukota adalah Ara, dengan pemerintah The Conclave yang dipimpin oleh para Judicators. Dan hari ini, Fenix akan membawaku ke Conclave untuk diberkati-- semacam pengesahan tinggal Protoss-protoss yang memasuki dewasa.
, dialah yang membesarkanku jadi kupanggil dia- Ayah.

, aku tertarik dengan jabatan-jabatan itu- dan aku sama sekali tidak mengerti tentang jabatan.
Ia berpikir seius sekali lalu ia berkata,
dia memelukku dan mengusap kepalaku,

Aku mengangguk mengerti lalu,

Lalu kami sampai di Ara, ibukota Aiur yang megah dan besar. Tapi jangan pernah membayangkan kota Protoss seperti kota manusia. Strukutnya saja sudah beda. Struktur kota Protoss terbuat dari batu marmer berwarna kuning-keorangean, dengan banyak kristal. Jalanannya masih rumput asli. Tidak ada yang mirip dengan kota Terran bahkan keramaiannya.
Beberapa Probe bekerja, membuat Proton cannon.Dua belas Zealots berpatroli. Beberapa Templar keluar dari sebuah Citadel, salah satu diantara mereka mendekati kami. Ia memiliki muka berwarna abu-abu, mata biru, dan mukanya seperti bentuk vaccum cleaner.. aneh sekali.

, balasku ke templar asing tersebut. Ia ‘tersenyum’ padaku.

, Ia mengangguk.

Aku tersenyum padanya lalu ia menggendongku di atas bahunya.

, aku melompat turun dari Tassadar dan meraih tangan ayahku.
Sebuah nexus dikelilingi oleh Pylon dan proton cannon. Nexus itu memiliki banyak sekali tangga, Zealot dengan leg enchantment seperti ayahku takkan capai karena tangga-tangga itu tapi untuk Templar seperti Tassadar? Gerakannya lambat dan jubah keagungannya mengganggu gerakannya. Aku bisa mendengar ia menggerutu, hehe.
Kami masuk ke nexus, dindingnya penuh dengan ukiran suci, lebih banyak dan indah daripada gedung lainnya. Pillar-pillar kuningnya memiliki ukiran juga. Lantainya terbuat dari kristal Khaydarin pilihan.
Seorang Protoss yang asing mendekati kami. Protoss itu memakai jubah hitam yang sangaattt indah dengan ornamen kristalnya. Ia memiliki permata ruby yang sangat besar di dahinya-- kristal tersebut untuk aktifitas telepati, Protoss tidak memiliki mulut. Tapi aku tidak pernah melihat kristal yang begitu besarnya.
Tangan kirinya membawa sebuah lampu, wujudnya seperti Pylon cuma kecil sekali. Ia memberi salam pada kami dengan mengangkat tangan kanannya lalu berhenti di depan kami,

Jadi dia seorang judicator, tsk, tsk, benar-benar hebat. Kami berlutut sejenak di depannya lalu,
ia menunjuk ayahku.

Ruangan pemberkatan ada di altar, puncaknya nexus. Kami bisa melihat kristal raksasanya nexus dari sini. Ada banyak Protoss kecil disini dengan orang tua atau guru mereka. Jadi pemberkatan bukan untukku saja... Aku bisa melihat lima Judicators berdiri di lima pedal berbeda di tengah.
Ketika upacara sudah selesai Aku turun ke tangga, menemui ayahku yang sejak tadi menunggu disana.

--End chapter 3

Chapter 4 : Full Circle

Aku sudah beranjak dewasa sekarang, sudah lama sejak pemberkatan. Umurku sekarang 25 tahun, masih tinggal bersama para Protoss. Masih tinggal di tanah suci Aiur. Masih berdoa pada Adun. Bedanya sekarang hanya kami berada dalam bahaya. Zerg menyerang Aiur, Aiur sekarang penuh dengan darah, bahaya, kemarahan, dan setan. Tanah suci kami sekarang berubah menjadi medan perang.
Aku melihat semua Protoss menggunakan baju baja dan mengucapkan mantera plasma shield untuk armor mereka itu. Aku bisa menggunakan plasma shield pula bila aku memakai armor Protoss. Dan sekarang aku seorang Terran dengan kostum Protoss.
Serangan fisikku lemah tapi aku tetap ingin mempertahankan Aiur, aku ingin mendapatkan keagungan Khala. Dan aku sudah dilatih sebagai Zealot serta Templar.
Apakah kau pernah melihat Zealot yang cloaking? Akulah Zealot yang cloaking, Hydralisk-hydralisk itu menjadi kebingungan karena aku tapi ketika overlord datang dan aku menjadi terlihat aku terpaksa mundur. Aku tidak mempunyai satupun C-10 canister rifle sekarang, aku menggunakan psi-blades. Ini perang betulanku yang pertama.
Aku ikut dengan Zealot-zealot lainnya, para muda-mudi yang dulu bersamaku juga saat pemberkatan. Kami menyobek-nyobek sebuah sunken coloniest menjadi serpihan. Pernahkah kau mendengar Zealot dijuluki ‘The raptors’? Kami menyerang dengan perasaan marah yang meluap-luap-menyerang tanpa ampun-menyerang asal seperti predator menangkap mangsa yang lebih besar dari dirinya. Bila kau melihat cara kami menyerang dari jarak dekat kau akan melihat betapa ganasnya kami- lebih ganas dari para Zergling kecil yang ‘pintar’ itu.
Yup Zergling memang pintar. Mereka menyerang kami 4-1 dan mereka menarget tubuh kami bukan hanya asal menyerang. Dan karena ukuran tubuh mereka yang kecil mereka bisa lari dari serangan kami dan memukul balik sesudahnya. Hydralisk adalah masalah utama kami, mereka sering bersembunyi lalu menyerang, serangan Neddle spines mereka punya jarak yang cukup jauh. Neddle spines berbekas pada armorku, shieldku tertembus oleh salah satu Hydralisk itu.
Pasukan Zealot kami berpapasan dengan pasukan Hydralisk musuh, kami harus mundur. Sekarang giliran Reaver-reaver maju ke medan perang. Scarab dari dalam Reaver meledakan sekelompok Hydralisk menjadi segumpal darah kental. Reaver-reaver maju ke depan dan menyerang sunken-sunken, namun mereka tidak tahu ada Zergling-zergling bersembunyi di dekat sunken-sunken itu. Jadi sekarang Zergling-zergling itu keluar dari tanah dan menyerang Reaver-reaver tersebut. Reaver masih bisa bertahan menghadapi serangan Zergling yang cuma sedikit itu namun... Berikutnya cakar Medusa- Zerg Queen muncul dan mengspawn broodling salah satu reaver tersebut, membuat yang lainnya panik.
Satu-persatu Reaver-reaver itu dihancurkan dan kami tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan mereka, tapi Protoss-protoss pengendara Reaver berhasil menyelamatkan ddiri.Sekarang Zerg mengimikan pasukan mematikan-kepiting Guardian mereka. Mereka berhasil meledakan beberapa pertahanan frontal kami sebelum Templar-templar sempat mengucapkan mantera Psionic Storm- memecahkan mereka seperti serangga.
Scout melakukan perburuan Overlord lalu pasukan zealot kami masuk ke markas Zerg diikuti oleh dua Arbiter berupgrade lengkap. Carrier-carrier melepaskan interceptors, sayang sekali Carrier terhebat -Gantrithor tidak ada disini untuk ikut berperang tapi kami memenangkan peperangan ini- untuk sementara. Zerg-zerg itu akan kembali.
Aku melihat mata-mata Terran dari Confederacy turun dari sebuah dropship. Kami melihat kedatangan mereka dan membunuh mereka semua. Aku mendekati ayahku,
aku bertanya, mengetahui kemungkinan mereka akan kemari untuk mengejarku karena kabur.
, Ayahku tersenyum padaku, senyum dengan wajahnya yang kelelahan setelah perang ini.
--End chapter 4

Chapter 5 : First Strike

Antioch diserang! Kami tidak bisa menahan serangan Zerg-zerg itu- sesegera mungkin kami mengungsikan penduduk kami ke Sargas, kota terdekat.
Antioch tinggal reruntuhan... Apa yang kami miliki tinggal sebuah Nexus, dua buah Pylon, Assimilator, Forge, dan Gateway. Bahkan Gatewaynya tidak beroperasional karena tidak ada Pylon didekatnya. Semua probe telah dihancurkan Zerg dan kami tidak memiliki bahan yang cukup untuk mebuatnya lagi. Zerg sudah menghentikan penyerangannya, mungkin mengira kami semua sudah tamat. Tapi mereka membuat sebuah markas dekat kami...
Aku menghampiri Ayahku. Ia terlihat sangat lelah, ia dan pasukan kami yang terakhir. Yang tersisa dari kami hanya tiga Dragoon, aku dan Ayah. Ketika aku terfokus pada Ayahku, aku melihat ia berdarah...
aku panik, jelas aku panik. Aku tidak mau kehilangan Ayahku...

Seekor Hydralisk datang- mati. Dua ekor Zergling datang- mati. Berapa lama kami mesti bertahan seperti ini? Aku tahu Zerg-zerg ini hanya ingin kami bertambah lemah hingga base baru mereka itu tumbuh kuat... sampai saat itu kami selamat namun aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah itu... Dragoon yang kami tempatkan di baris paling depan lari kemari,

Ia kembali dengan enam Zealot yang sudah diupgrade, Zealot terbaik Ara kata mereka, dan dua dragoon. Untukku mereka hanya Zealot yang memiliki Leg enchantmen, upgrade armor dan senjata level satu. Fenix membaca surat yang mereka kirim, surat dari The Judicators. Aku melihat wajahnya menjadi bersemangat waktu ia menutup surat itu. Ia melihat ke arah kami semua, lalu berkata.

Kami semua mendukung perkataannya. Para Probe mulai bekerja, Dragoon-dragoon berpatroli, Zealot-zealot waspada di posnya masing-masing. Ayahku menyuruhku duduk, ia tahu aku gugup. Aku duduk tapi aku tetap khawatir dan takut...
Ketika aku masih kecil, aku ingat zerg-zerg itu membunuh hanya karena insting mereka namun sekarang... Mereka menyerang untuk menguasai kami, untuk memusnahkan kami semua, dan mengambil alih Aiur.

Aku mengangguk dan kembali duduk. Aku melihat sekitar, sebuah Pylon muncul dan meberi tenaga pada gateway kami lalu sebuah Probe meng-warp sebuah cannon di depan markas kami.
Aku tidak bisa hanya duduk dan menunggu lagi, aku berdiri dan meminta izin dari Ayahku. Waktu pertama kalinya aku bertanya, ia tidak mengizinkanku tapi karena kekeras-kepalaanku akhirnya ia memberiku izin.
Jalan-jalan berkeliling bisa menghilangkan rasa gugupku. Aku berjalan melewati reruntuhan, yang tadinya kota indah Anticoh. Tentu saja aku berjalan-jalan sambil menghilang, tidak ada yang tahu kalau ada zergling ataupun hydralisk ‘tidur’ di bawah sana. Aku menemui sekumpulan mayat Protoss sedang dimakan oleh Zergling-zergling yang kelaparan, dijaga oleh tiga Hydralisk. Bila Zerg-zerg itu siaga, mereka bisa mengetahui keberadaanku. Aku meninggalkan mereka, tetap berjalan hingga kutemukan markas Zerg.
Aku tidak tahu mengapa, ada sesuatu yang menarik perhatianku untuk kesana, ada sesuatu yang emaksaku melihat kedalam, dan aku ikuti sesuatu itu. Aku berjalan melewati creeps-tanah lembabnya Zerg, aku tidak menemukan satupun prajurit Zerg. Seekor Overlord melihatku, berhenti dengan wajah ketakutan namun aku tidak menyerangnya. Overlord itu bergerak lagi, ia berpikir aku tidak bisa menyakitinya.
Sekarang aku tahu bagaimana Zerg bisa tetap menciptakan tentaranya. Mereka dapat mengatur larva-larvanya menjadi apa yang mereka inginkan! Kalau demikian berarti tidak ada satupun Zerg yang tidak berguna. Salah satu larva mondar-mandir di dekatku, makhluk kecil yang ‘lucu’ berwujud seperti ulat bulu dengan dua gigi depan yang tajam seperti milik belalang.
Aku tetap berjalan hingga tanpa kusadari aku sudah tidak berada di daerah Antioch sama sekali, dan disini Zergnya lebih waspada.... Waks! Bagaimana aku bisa lolos dari daerah Zerg ini, prajurit mereka sudah kembali... Aku dikepung.
Aku bersembunyi di dekat Hive lalu seekor Zergling dengan instingnya mengetahui keberadaanku... Zergling itu memanggil Zerg lainnya dengan sebuah teriakan khas Zerg. Oh tidak! Lari Patricia! Lari! Tapi kemana?? Mereka ada dimana-mana!
Lari ke kiri, diblokir, ke kanan, diblokir. Di depan lebih-lebih. Di belakangku Hive mereka, pasti ada banyak Zerg didalamnya seperti Nexus penuh dengan penjaga. Akhirnya aku mengambil resiko, aku berlari masuk ke dalam sarang mereka- Hive.
Sangat-sangat aneh... Tidak ada Zerg didalamnya, hanya Queen yang sedang bertelur dan larva-larva yang masih belum dewasa. Pasukan Zerg berhenti mengejarku, mereka tidak masuk kedalam Hive.

Sebuah suara mengerikan bertelepati ke kepalaku. Aku yakin pemilik suara ini bukan sesuatu yang baik... Aku mencari asalnya... Itu berasal dari sesuatu yang besar, yang sama bahannya dengan struktur-struktur Zerg. Benda hidup yang memiliki sebuah mata di tengahnya dan memiliki banyak tentakel yang bentuknya mirip dengan akar, sangat banyak tentakel...
lanjutnya.
, jawabku dengan telepati juga.

Seekor Queen menghampiriku, dia pasti bermaksud untuk menginfestku. Tidak! Aku tidak mau menjadi budak Zerg!
Aku berlari keluar dari Hive... Di luar Hive, aku dikepung oleh Hydralisk-hydralisk, banyak... Itu membuatku ketakutan dan hampir meneteskan air mata, aku tidak pernah merasa begini takut sejak penyerangan Hunter Killer di labortrium.. Hydralisk-hydralisk itu mendesis dan menodorongku kembali ke dalam Hive.

Mantera! Cari mantera yang bisa menyelamatkan kemanusiaanku! Aku tidak bisa memakai recall. Psionic strom? Hydra’nya terlalu banyak, sekitar 100 ekor mungkin... Sihir apa yang bisa berpengaruh? Tidak ada overlord disekitarku... Hallucination! Aku akan menghalusinasikan diriku sendiri lalu secepatnya Cloaking- mungkin itu bisa menyelamatkanku. Hydralisk tidak memiliki insting sebaik Zergling.
*Cast hallucination
Cloaking- Aku berhasil, mereka tidak menyadarinya! Tapi aku harus cepat-cepat. Halusinasi yang kubuat hanya bertahan sebentar, peljaranku tentang halusinasi belum selesai. Mereka mendorong halusinasiku. Aku segera lari menjauhi kerumunan itu. Aku berpapasan dengan Overlord yang sedang berpatroli, Overlord yang tadi lagi. Overlord itu akan menjerit, bermaksud memanggil para pasukan.
*Cast psionic storm
Overlord itu kaget, ia tidak tahu aku bisa menyakitinya dan sebelum ia sempat kabur, psionic storm sudah menghancurkannya. Aku lari. Dan ketika aku melihat kebelakang, para Zerg sudah mulai mengejarku. Mereka sudah tahu bahwa mereka dibohongi.

Ia lebih dari sekedar tahu... Takdir sebagai Zerg? TIDAK! seekor Bengalaas bengong di dekatku.
*Cast natural control
Sekarang aku mengendarai Bengalaas- pelari tercepat di Aiur, lebih cepat daripada Zergling. Para Zerg kehilangan jejakku dan akupun kembali-- kembali ke Antioch maksudku. Aku takkan pernah mau sekali lagi dekat-dekat dengan makhluk mengerikan yang bernama Overmind itu. Sesampainya di Antioch aku tahu Ayah dan para prajurit sudah menyelesaikan misinya.
--End chapter 5

Chapter 6 : Into the Flames - The Fall of Fenix

Aku masih ingat bagaimana aku bisa lolos kemarin. Natural control- sesungguhnya Protoss akrab dengan alam, teman dari alam itu sendiri, dapat minta bantuan dari alam. Pengecualian untukku yang bukan asli Protoss, alam tidak mengenalku- mereka hanya mau menuruti kemauanku bila aku memakai Natural control yang kupelajari dari Tassadar.
Tassadar... Kata Conclave ia seorang pengkhianat. Di hatiku aku sama sekali tak mempercayainya- membantahnya. Tassadar adalah Protoss yang paling bijaksana yang pernah hidup. Ia memiliki muka yan gjelek tapi hatinya sebaliknya. Ia mengajarkanku banyak hal. Ia mengajarkanku cara bertahandi tengah kesendirian, bagaimana tetap bertahan tanpa teman. Ia mengajarkanku bahwaProtoss bukan yang terbaik. Tidak ada satupun di angkasa ini yang adalah terbaik, semua memiliki kelemahan juga Xel’naga.
Kami tetap di Antioch dengan dua Reaver baru berserta pengendaranya. Kami membuat Nexus di dekat sumber daya alam yang ditinggalkan para Zerg yang telah kami bunuh. Tapi aku masih tidak mengerti mengapa Conclave membiarkan keadaan kami seperti ini. Ayahku bilang mereka sibuk mencari Tassadar. tapi itu tidak masuk akal membiarkan Aiur hanya untuk mengejar Tassadar. Aldaris bilang ke ayahku bahwa Tassadar bergabung dengan tentara Terran. Aldaris bilang ia bisa berbahaya. Aldaris bilang mereka telah memanggil Tassadar agar pulang ke tanah air tapi ia tidak mempedulikannya. Buatku itu semua tidak masuk akal, tapi Ayahku hanya menyuruhku tutup mulut dan memastikanku bahwa Conclave punya alasan yang serius dan lebih berbahaya dari Zerg.
Aku memanggil Tassadar, paman Tassadar. Aku suka padanya, ia baik padaku. Aku tidak mengerti bagaimana ia bisa menjadi seorang pengkhianat, dan tidak mempercayainya. Lalu kulupakan semua masalah itu untuk sementara, aku lihat Ayahku berkemas- kemana ia akan pergi?

Lalu ayahkupun pergi, memasuki portal. Aku ingin pergi. Lagi-lagi ide gila muncul di kepalaku. Aku cloaking lalu masuk diam-diam ke balik portal dan sampai langsung ke ruang pertemuan- di dalam Citadel seorang Executor yang tak kukenal.Tidak ada detektor- bagus untukku tapi berbahaya untuk kami semua.
Judicator-judicator-- dengan Aldaris tentu saja, Executor, dan dua Templar ahli telepati. Templar-templar itu mengirim gambar wajah Tassadar ke sebuah kristal- sebagai monitor. Dan pertemuanpun dimulai.
Aku duduk diam mendengarkan pembicaraan mereka. Tassadar bilang kaum Terran yang mereka temukan bukan orang jahat dan dia juga menemukan sesuatu yang penting di Char... Ia menemukan Zeratul. Zeratul adalah Prelatenya Dark Templars--semacam wakil pemimpin. Di penjelasan Tassadar dan Aldaris Aku mengambil kesimpulan para Dark templar dibuang dari Aiur ratusan tahun yang lalu... Di waktu Judicator sebelumnya. Mereka menyebutnya The Dark Ones. Aldaris tidak menyukai Dark templar. Mereka semua mengabaikan aturan Khala’s dan karena itu mereka tidak pantas tinggal di Aiur. Tassadar bilang bersama Zeratul ia menemukan komandan Zerg: cereberate.
Aku tahu tentang cereberate, Confederacy memberiku banyak pengetahuan tentang Zerg, walaupun mereka tidak mengetahui tentang The Overmind. Tassadar bilang Zerg akan berhenti menyerang bila mereka kehilangan Cereberate mereka. Mereka telah mencobanya, Zeratul dengan warp bladenya yang sangat kuat membunuh seekor Cereberate. Sebelum Tassadar sempat mengakhiri kalimatnya, Aldaris memotongdan memberikan perintah pada Executor dan Ayahku untuk membunuh seekor Cereberate yang bermarkas di dekat kota Shelak.
Perjalanan ke kota Shelak tidak bisa menggunakan portal, itu sudah dikepung oleh markas Zerg. Seperti apa yang selalu kulakukan, Aku mendekatinya. Aku ingin pergi.

, tampaknya aku membuatnya kesal.

Aku diam di markas, menunggu. Kami semua ketakutan... Ketakutan akan hari akhir kami. Takut kaum Protoss akan berakhir disini. Populasi Protoss sangatlah dikit tidak sebanyak Terran ataupun Zerg.”
Aku belajar sesuatu tentang populasi. Protoss jumlahnya paling dikit tapi semua bisa mempertahankan diriny masing-masing dan memiliki daya tahan tubuh yang besar. Terran memiliki populasi yang besar tetapi sebagian besar tidak bisa berperang. Zerg memiliki populasi yang besar dan semuanya bisa bertarung tapi daya tahan tubuh mereka sangat rendah dan bodoh.
Sebuah berita besar datang ke tengah-tengah kami: Cereberate telah dibunuh dan semua Zerg di daerah Antioch-Shelak terpecah-pecah dan kebingungan. Dan sekarang kami menunggu kedatangan para pemenang, menunggu kedatangan Ayahku.
Satu hari- dua hari- tiga hari. Dibutuhkan waktu seminggu untuk kembali ke markas kami. Aku berjalan mengitari markas, bayangan apa itu? Aku mendekati bayangan itu, Zerg! Banyak Zerg menuju Antioch! Aku lari kembali ke markas,

Kami mengirimkan pesan SOS ke Conclave, ke Ayahku, dan ke semua kota terdekat. Zerg benar-benar menyerang... Jadi Tassadar benar-benar berbohong... Mengapa ia tega melakukannya? Aldaris mengontaknya, memarahinya. Dengan wajah tak berdosa ia bilang cereberate hanya bisa dibunuh oleh Dark templar. Jadi itu yang ia ingin katakan di pertemuan.

***sementara itu

Fenix terkejut setengah mati dan berteriak sebisanya. Meneriakan namaPatricia, meneriakan nama kota yang disayanginya. Ia menyuruh semua mempercepat langkah secepat-cepatnya tapi Reaver-reaver itu tidak bisa berjalan cepat, dan harus dijaga para Zealot. Fenix menjadi gugup dan marah-marah sepanjang perjalanan. Ia mengkhawatirkan Patricia. Ia mengkhawatirkan teman-teman seperjuangannya. Ia mengkhawatirkan Antioch. Ia mengkhawatirkan semua hal. Ia juga marah kepada Tassadar. Ia juga marah kepada Aldaris. Ia marah kepada semua Judicator yang meninggalkan Antioch tetap seperti itu.
Ia tidak bisa berdiam diri lagi. Tanpa sepatah katapun ia mulai berlari, meninggalkan lainnya di belakang. Ia bisa membayangkan anaknya berteriak ketakutan, teman-temannya menjadi serpihan-serpihan, dan ‘tawa’ Zerg.
Ia tidak ingat sudah berapa lama ia berlari namun sekarang ia mulai lelah. Ia berhenti sejenak namun sebuah ingatan apa yang akan terjadi pada semua yang ada di Antioch memberinya semangat lagi. Ia ingin lari lagi namun ia terlalu kelelahan. Akhirnya ia berjalan dan berjalan- sendirian.
Ia tidak tahu ada seekor Hydralisk bersembunyi di dalam tanah. Ia tidak memiliki satupun detektor. Seekor Hydralisk muncul di depannya, mendesis marah dan kelaparan. Mata Hydralisk itu berwarna merah, tempurungnya keras sekali, itu bukan sembarang Hydralisk. Itu Hunter Killer!

Hunter Killer itu hanya menjawab dengan menggerak-gerakkan kepalanya namun Zerg itu mengerti apa yang Fenix katakan. Fenix mengangkat tangannya dan menyalakan psi-bladenya dengan penuh rasa percaya diri.
Psi-bladenya menghilang! Tidak bertenaga! Fenix lupa mengisi baterainya di Pylon terdekat, ia tidak punya waktu dan tempat untuk mengisinya. Hunter Killer itu mendesis senang dan...

***

Sesuatu yang buruk terjadi... Aku bisa merasakannya. Sesuatu yang buruk telah terjadi... Hari ini tidak sesuai denganku sama sekali.
Antioch tidak terselamatkan tapi masih ada sisa-sisa Protoss yang bersembunyi dari expansi itu. Aku, pertama kalinya aku bertahan namun ketika aku mendapat luka berat akupun ikut bersembunyi seperti yang lainnya.
Aku merasa seseorang yang dekat denganku tertimpa bahaya... Tapi siapa? Dimana? Kapan?
Ayah! Aku melupakannya! Aku berlari melalui jalan yang mungkin akan dilalui tentara kami. Aku berlari selama beberapa jam lalu... Lalu...
Ak umenemukan tentara kami melihat padaku dengan perasaan sedih dan simpati. Aku tidak bisa menahan air mataku... Fenix. Ayahku. Milikku. Aku bermaksud membunuh makhluk yang membunuh Ayahku tapi ia sudah pergi.
Aku menemukan tubuh Ayahku berserakan, semua terkoyak-koyak. Aku berlutut di depan kepalanya... Tidak mempedulikan kolam darahnya yang mengotori bajuku, kaki, dan tanganku.
aku berteriak tanpa harapan...

Aku mengedipkan mataku lalu menghapus air mataku. Mencoba mengontrol diriku sendiri. Ayah takkan senang melihatk uhanya merenung dan menangis.
--End chapter 6

Chapter 7 : To Back to A Ghost

Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa melakukannya. Tapi mereka menambal tubuh Ayahku dan memasukannya ke dalam sebuah Dragoon. Fenix the Dragoon bukan Fenix the Zealot. Seminggu setelah kejadian mengenaskan itu. Sekarang aku tidak bisa melihat Ayahku tersenyum atau Ayahku memelukku. Dragoon adalah robot yang hanya bisa bergerak ataupun hidup hanya bila ada tubuh dan jiwa Protoss di dalamnya.
Sekarang kami berjuang di bawah perintah Tassadar. Ia benar, semua yang ia katakan. Conclave memburunya dan melupakan tanah Aiur kami, itu yang membuat kami berontak. Kami tinggal di dalam Gantrithor dan mencoba membunuh semua Zerg serta menghindari Conclave.
Keadaan sekarang menjadi sangat berbahaya. Banyak diantara kami mati di perang ini. Bila kau ingin kedamaian, bersiaplah untuk berperang. Sebuah dropship terbang di dekat Gantrithor kami. Beberapa Terran keluar dari sambungan Dropship-Gantrithor.

Rasa takut itu kembali muncul. Bayangan mimpi buruk masa lalu kembali menghantuiku. Apakah mereka dari Confederacy? Bukan, itu pasti bukan! Ayahku takkan menyerahkanku pada mereka.
Dengan penuh hati-hati aku mengintip Terran-terran itu. Seragam mereka bukan seragam Confederacy. Mereka pasti bukan Confederacy. Ayahku memanggilku dan kamipun berbincang-bincang dengan para Terran.
. tanya Fenix.
“Baik!” kata orang yang bernama Jim itu. Ia kira-kira berumur 30 tahun. Memiliki kumis, rambut jarang, otot yang besar. Ada banyak bekas-bekas perang di baju perangnya. Bekas cakar, lubang peluru, acid sporenya Mutalisk, dan bekas Neddle spines Hydralisk. Ia pasti telah melalui banyak hal.
“Siapa dia? Pacar ‘Terran’mu?”

©Amethyst Orchard 2004 - 2009.