Nyanyian Sunyi di Atas Busway (In Indonesian Language)

Pria dan wanita segala umur berkumpul dengan pakaian hitam-hitam. Hujan tidak berhenti menerpa bumi dengan deras, namun tangisan yang terdengar di bawah atap teras kantor pekuburan itu lebih kencang lagi. Aku hanya bisa terbengong diam sementara tidak jauh dari kami, tanah kuburan yang telah digali diurai hujan dan peti mati almarhum sahabatku tergeletak di atas tanah. Sudah hampir malam, pemakaman ini terpaksa ditunda besok, dan hal itu menambah beban keluarganya yang ditinggalkan.

Aku berbalik dan pergi ke ruangan lain yang sepi lalu duduk diam disana. Menit-menit berlalu dan orang-orang itu masih disana dan meratap. Beberapa saat kemudian barulah rombonganku, mahasiswa-mahasiswi jurusan Psikologi angkatan tahun ini, beranjak menuju tempatku. Kalau dari mata orang normal, pandangan mereka terhadapku terlihat seperti rasa enggan, namun bagiku itu hal yang biasa.

“Loe punya perasaan ga sih?” tegur Alisa, ketua mahasiswa. Aku kembali menunduk dan tidak menjawab, tidak tahu bagaimana menjawabnya. “Pulang sendiri sana!” marahnya.

Mereka beranjak pergi dan aku hanya mengawasi dari sudut mataku. Aku tahu tidak ada gunanya berargumen dengan mereka, bukan karena mereka itu jahat, hanya saja aku tidak tahu cara berbicara dengan mereka. Aku seorang misfit, ditakdirkan untuk tidak cocok dengan sebagian besar manusia. Satu-satunya yang mengerti diriku telah meninggal dalam kecelakaan busway namun aku tidak bisa meneteskan air mata.

Hujan mulai mereda sementara orang-orang sebagian besar telah pulang, Aku beranjak dari tempatku duduk dan keluar dari pemakaman, mencari angkutan umum. Di depanku ada stasiun busway yang segera menarik perhatianku untuk mengingat hari terakhir almarhum Erick. Segera aku menaiki jembatan penyeberangan yang tersambung ke stasiun.

Setapak demi setapak aku mengingat kembali kenangan tentang Erick, bagaimana kami pertama kali berkenalan, bagaimana ia sengaja mendekatiku di perpustakaan sementara aku berusaha bergerak menjauh hingga akhirnya menyerah dan iapun memulai percakapan.

“Hai! Nama saya Erick, saya baru disini. Namamu siapa?”

“Erika.”

“Wah nama kita mirip yah! Kalau begitu aku bisa jadi adikmu donk? Yah? Yah? Bagaimana kalau cici Erika mengantar adek melihat-lihat kampus?”

Aku tersenyum sendiri sambil melangkah pelan-pelan mengingat kejadian itu. Ia sebenarnya sudah berkeliling kampus dan ia tidak ahli menyembunyikannya. Kejadian hari itu mungkin satu dari sekian dikit hal yang mampu membuatku mengekspresikan tawa lepas.

Tetap saja aku tidak berguna. Aku tidak bisa membalasnya bahkan sekadar tersenyum ketika ia menyapapun tidak.

Setengah sadar aku membeli karcis dan menunggu kedatangan bus. Sudah hampir jam sebelas, mudah-mudahan aku bisa mendapat bus terakhir, walau mungkin mereka akan menurunkanku di salah satu terminal kota, bukan di terminal paling ujung. Satu bis meluncur dan berhenti di hadapanku. Aku tanpa pikir panjang menaikinya.

Bus itu kosong dan tidak ada kondekturnya. Aku duduk di kursi terdekat dan kembali melamun. Aku berusaha membayangkan Erick yang sebenarnya anak orang kaya, berdesak-desakan di dalam busway. Aku berusaha membayangkan dirinya yang ceria dan pintar, tiba-tiba memutuskan untuk berdiam di bus sementara gas bocor mencekik siapapun yang tidak sigap keluar. Aku berusaha membayangkan api yang tiba-tiba melahapnya ketika gesekan menyebabkan percikan api yang langsung disambut oleh gas.

Aku tidak mengerti.mengapa. Hal itu begitu irrasional.

Dan matakupun mulai kabur karena air mata. Aku mulai menangis tanpa suara.

Beberapa lama kemudian aku tersadar. Aku merasa sepertinya busnya tidak berhenti di terminal manapun dan waktu telah berjalan cukup lama. Aku berjalan ke depan menghampiri kursi supir.

Dan mendapati kursi itu kosong...

Badanku membeku diam. Mataku menatap setir yang bergerak sendiri. Nafas dan teriakanku tertahan oleh rasa takut yang sangat. Aku mulai menyadari kesunyian tidak wajar, suara mesin bus sudah tidak terdengar lagi walau bus tetap berjalan. Lalu terdengar seseorang bernyanyi pelan dari belakang bus.

“Under your spell again... I can't say no to you... crave my heart and its bleeding in your hand... I can't say no to you...”

Aku ingat ini lagu Good Enough-nya Evanescence, sebuah lagu yang sangat disukai Erick. Aku melihat ke belakang dan tidak terlihat siapapun dari sini.

“Siapa disana?!” seruku walau aku yakin tidak ada orang disana.

Rasanya seperti berada dalam film horor. Aku bisa diam disini, sementara setir di belakangku bergerak sendiri. Atau aku bisa mendatangi bagian belakang bus, dan sang setanpun melanjutkan skenarionya. Apapun pilihanku, setan itu akan tetap menerorku. Perlahan, seakan didorong rasa ingin tahu seperti di film horor, aku berjalan menuju bagian belakang bus. Nafasku kutahan, adrenalin terpompa, dan indera-inderaku terjaga untuk menghadapi kejutan.

“Apa maumu?” tanyaku.

Mungkin sebaiknya mengikuti permainan setan ini. Aku berjalan ke bagian belakang bus hingga sampai di pintu emergency. Seperti yang kuduga, tidak ada siapapun. Lalu tiba-tiba aku tidak bisa bergerak. Aku dapat merasakan sesuatu yang mengerikan di belakangku. Entah apa itu, hal mengerikan itu bernafas dengan susah payah, tidak jauh di belakangku. Ketika sensasi keberadaannya menghilang, aku mendengar suara bola yang memantul.

Aku berusaha tidak berbalik. Lalu aku berusaha menutup mata dan pikiranku terhadap permainan setan ini. Tapi dengan menutup mata, justru aku dibanjiri oleh teror tak terlihat. Pasrah, perlahan aku kembali membuka mata dan membalikkan badanku.

Sebuah bola pantai memantul tidak beraturan di lantai bus. Beberapa saat kemudian satu bola lagi keluar dari kursi dan bergabung. Lalu satu bola lagi... dan lagi... hingga suaranya membuat kepalaku sakit. Aku membayangkan habis ini bola-bola itu akan menyerangku, atau bertambah banyak hingga membenamku.

Tapi tentu saja setan tidak akan bermain dengan imajinasi yang telah diterka korbannya. Darah merembes keluar dari sisi kiri kanan bus, tepat dibawah kursi dan terus merembes ke tengah ruangan. Bola-bola masih memantul-mantul, membawa darah dalam setiap pantulan, memerciki seluruh bus dengan darah.

“Hentikan!” tangisku sambil berlutut, menutup mataku, dan memegang kepala.

“Neng? Neng tidak apa-apa?”

Panggilan itu menyadarkanku dan aku mendapati diriku duduk di bus yang wajar dengan kondekturnya berjongkok di depanku. Wajah kondektur itu terlihat khawatir. Suarau-suara juga kembali normal, ada suara mesin bus, ada suara orang-orang melangkah di lantai logam stasiun, dan ada suara-suara kendaraan di kejauhan.

“Sudah stasiun terakhir Neng.”

“Oh ya maaf..”

Aku beranjak dari bus dan segera berlari pulang. Sampai di rumah aku dimaki ayahku yang galak dan disiplin, seorang perwira ABRI yang mendambakan kenaikan pangkat. Walau aku dimarahi dan ditempeleng, aku merasa lega setan tidak menggangguku lagi. Segera aku makan malam, mencuci muka, lalu pergi ke ruang tidur dengan satu kasur yang dibagi bertiga untuk aku dan adik-adikku. Awalnya aku takut setan itu kembali muncul, namun aku kelelahan dan akhirnya tertidur pula.

***

Paginya di kampus, aku sedang berada di perpustakaan dan sedang berjalan melewati rak berisi buku tahunan alumni ketika sebuah buku tiba-tiba menyempil keluar dan terlempar ke lantai dalam keadaan terbuka. Sebelum aku melangkah mendekat, dunia kembali sunyi dan aku dicekam rasa takut. Lampu perpustakaan meredup lalu mati – hidup. Dari celah-celah antar buku, darah mengalir keluar, menetes-netes hingga memenuhi lantai. Namun majalah yang tergeletak di atas lantai tidak ternoda oleh darah itu. Genangan darah itu bergelombang dan membawa buku itu ke arahku. Aku baru saja melihat format halamannya ketika tiba-tiba aku berada kembali di dunia nyata.

Buku yang terlempar itu masih ada di sana, tersembul diantara buku-buku di rak. Penasaran, aku mengambilnya dan segera menuju kursi, melupakan tujuanku mencari materi tugas. Setelah menemukan kursi kosong, aku duduk dan segera kubalik-balik halamannya hingga kutemukan halaman yang ditunjukan si setan. Aku membaca profil-profil yang tertulis disana hingga menemukan nama yang terasa tidak asing bagiku; Elvina Irnawan. Aku bersandar di kursiku dan menutup mata mengingat-ngingat

Erick Irnawan. Ya, nama lengkap Erick adalah Erick Irnawan. Apakah jiwa Erick tidak tenang dan berusaha menyampaikan sesuatu padaku? Tapi Erick 'kan tidak punya kakak? Lalu siapa Elvina Irnawan? Tanpa pikir panjang, aku segera beranjak dari tempatku duduk dan pergi meninggalkan perpustakaan.

Aku berhenti di depan ruang administrasi dengan gugup. Aku tahu jam segini biasanya petugasnya sedang makan siang dan akan kembali sekitar sepuluh menit lagi. Aku tahu apa yang kulakukan ini mungkin akan kusesali, aku akan dikeluarkan jika tertangkap. Perlahan tanganku mendekati gagang pintu sementara mataku melirik kiri kanan.

Cepat-cepat aku menarik tanganku. Aku bersandar ke dinding di sebelah pintu sementara jantungku berdetak keras. Sebaiknya aku menunggu petugas administrasi dan mencoba meminta bantuannya terlebih dahulu. Uang kuliahku berasal dari beasiswa, kalau aku dikeluarkan, aku tidak akan memiliki kesempatan kuliah lagi.

Beberapa saat kemudian petugas administrasi datang, sejenak mukanya bertanya-tanya mengapa ada mahasiswi di depan kantornya namun lalu ia kembali menampakkan wajah profesional.

“Adik sedang apa disini?”

“Selamat siang pak, bisakah saya melihat data mantan mahasiswa bernama Erick Irnawan?”

“Data pribadi yah PRIBADI. Tanpa izin dari kepolisian atau rektur, tidak ada yang boleh melihat-lihat. Pergi sana!”

Petugas administrasi masuk ke dalam ruangan dan membanting pintunya. Nyaliku ciut digertak seperti itu. Namun baru saja aku hendak melangkah, petugas administrasi itu berteriak. Ia segera keluar dari ruang administrasi dan berlari tunggang langgang ketakutan. Aku melirik ke dalam ruangan, tidak ada apa-apa disana. Memberanikan diri, aku masuk ke dalam ruang administrasi.

Kupungut sebuah map yang terdapat di lantai. Ketika kubalik, kulihat map itu adalah map yang kucari. Tampaknya hantu Erick telah menakut-nakuti petugas administrasi. Buru-buru aku keluar lagi dari ruang administrasi dan berharap aku tidak dipergoki siapa-siapa.

“Hei!” seru seseorang mengagetkanku.

Alisa dan dua temannya telah berdiri di dekatku. Aku menggenggam erat map di tanganku.

“Itu mapnya Erick?” tanya Alisa.

“I.. Iya..” jawabku tergagap. “Maaf, aku membutuhkannya sejenak.”

“Kami juga membutuhkannya,” sahut Alina sambil mendekat. Aku segera bergerak mundur.

“Eh Alisa, jangan-jangan ia juga dihantui,” celetuk salah satu teman Alisa. Alisa berbalik melotot.

“Alisa? Kamu berjumpa hantunya Erick?” tanyaku memberanikan diri. “Aku berjumpa dengan hantunya,” tambahku cepat-cepat.

Alisa dan rombongannya menatapku dengan mata terbelalak. Aku jadi merasa tidak enak dan menunduk.

“Tidak seperti itu. Kami semua mendapat mimpi buruk yang berhubungan dengannya,” aku Alisa. “Sini, mapnya biar kusembunyikan di tasku.”

Sedikit ragu-ragu aku memberikan mapnya kepada Alisa. Ia melipatnya lalu memasukkannya ke dalam tas.

“Ayo, kita ke rumahku,” ajaknya buru-buru.

Kami berhasil keluar kampus tanpa dipergoki si petugas administrasi atau dosen-dosen yang berbondong-bondong ke ruang administrasi. Dari sana kami berjalan kaki ke rumah Alisa yang tidak begitu jauh. Tidak ada yang berbicara, semuanya tegang.

Kami sampai di rumah Alisa. Rumahnya tidak terlalu besar. Ia segera membawa kami ke kamarnya di lantai dua dan kamipun duduk berdesak-desakan di atas karpet. Ia mengunci pintu lalu mengambil buku dan pena. Di atas lemarinya ada banyak sekali boneka. Ia juga memiliki sebuah rak buku, sebuah meja belajar yang dilengkapi komputer, dan tempat tidur yang rapih.

“Erika, ceritakan bagaimana kamu bertemu hantu Erick.”

Aku menceritakan kedua peristiwa menyeramkan yang kualami. Semuanya terdiam selama aku bercerita, hanya terdengar detakan jarum jam. Keringat dingin mengalir dari tubuhku sementara aku dapat melihat yang lainnya menggigit bibir. Hanya Alisa yang berusaha tenang dan terus menulis detail peristiwa.

“Ok. Siapapun hantu itu, ia juga mengganggu kami dengan mimpi buruk yang berbeda-beda,” kata Alisa. “Siapa yang mau mulai menceritakannya?”

Alisa menatap teman-temannya satu persatu, semuanya segera menunduk. Akhirnya Alisa mendesah.

“Baiklah, aku yang akan menceritakannya. Di mimpiku, boneka-boneka di atas lemari itu tiba-tiba berisik. Ketika aku melihat mereka, mereka sedang menangis darah. Boneka yang terbesar memaki-maki boneka yang terkecil, katanya 'Erick, kamu idiot!' lalu boneka besar itu mengeluarkan korek api gas dan membakar boneka yang lebih kecil. Dini, kamu ceritakan mimpimu.”

“Tapi Alisa 'kan sudah mendengarnya.”

Alisa diam menatap lurus ke mata Dini tanpa berkedip, bahkan ketika Dini memalingkan muka. Seperti biasa, persuasi ala ketua mahasiswa itu berhasil membuat Dini berbicara, walau pelan.

“Saya sedang tidur saat itu. Tiba-tiba saya merasa perut saya ditekan, seperti ada sesuatu di atas saya. Ketika saya membuka mata, saya melihat dua kertas putih berbentuk orang-orangan tersenyum di atas perut saya. Orang-orangan yang besar memiliki huruf E di kepalanya dan sedang memegang bahu orang-orangan yang lebih kecil dari belakang. Lalu wajah mereka perlahan berubah menjadi muram. Darah keluar dari mata keduanya dan mengalir membanjiri saya tapi saya tidak bisa bergerak. Setelah itu orang-orangan yang besar seperti direnggut tangan yang tidak terlihat lalu dirobek-robek, darah memercik kemana-mana.”

“Tias, ceritakan mimpimu,” kata Alisa.

“Kenapa sih kita harus mengulang cerita-cerita seram itu,” gerutu Tias.

“Karena aku akan mencatatnya. Aku tidak mau ketinggalan satu detailpun.”

“Baiklah. Di mimpiku aku terbangun mendengar suara gemerincing. Setumpuk uang logam emas muncul dari lantai kamarku dan terus bertambah hingga membentuk gunung. Kupikir ada durian runtuh tapi ketika aku bergegas turun dari ranjang, tiba-tiba terdengar suara tangis seorang lelaki, entah kenapa aku yakin itu suara Erick. Setelah itu darah muncul dari balik tumpukan emas dan memenuhi lantai kamarku.”

Semuanya diam membisu sementara Alisa menambahkan coretan-coretan pada bukunya. Detik-detik terasa seperti berjam-jam dan kami semua takut setan tiba-tiba muncul lagi disini. Selesai dengan catatannya, Alisa meraih tasnya dan mengeluarkan map Erick. Ia menaruhnya di tengah kami dalam keadaan terbuka.

“Masing-masing cari sesuatu yang ada hubungannya dengan semua mimpi kita,” perintah Alisa seakan hal ini sama dengan mengerjakan tugas kuliah.

Tidak ada yang membantah dan semuanya kebagian satu lembar kecuali Alisa sendiri. Tapi ia menjadi yang paling gelisah karena tidak ada yang bisa ia lakukan sementara kisah-kisah horor berputar di kepalanya. Aku mendapatkan halaman tentang keluarganya dan tidak menemukan nama Elvina Irmawan tapi aku menemukan sedikit kejanggalan, semua anggota keluarga memiliki nama berawalan huruf E.

“Hey, lihat yang kutemukan. Di catatan kesehatannya, Erick didiagnosa menderita ADHD,” seru Tias.

“ADHD itu apa?” tanya Dini.

“Masa mahasiswi psikologi tidak tahu sih,” gerutu Tias.

“Memangnya Tias tahu?” tanya Dini.

“Uh... aku lupa sich..” jawab Tias malu.

“Woooooooooooooooo!” seru semua mahasiswi kecuali diriku.

Seperti spontannya seruan itu, mereka juga spontan menutup mulut. Mereka takut hantu Erick atau setan apapun itu kembali muncul. Kami kembali terdiam.

“ADHD itu singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder,” kata Alisa. Sementara kami terdiam ketakutan, ternyata Alisa telah mengambil salah satu buku psikologinya. “Penyakit jiwa ini menyebabkan seseorang sangat kesulitan untuk berkonsentrasi dan menaruh perhatian.”

“Kalau Erick sakit jiwa, koq 'ga ditaruh di rumah sakit jiwa sich?” protes Tias.

“Memangnya Erick pernah mengganggu kamu,” tegurku.

“Tidak sih...” jawab Tias malu.

“Erick-kan cuma sering tidak mengerjakan tugas dan mengajak ngobrol pas kuliah,” tambah Dini. “Dia tidak pernah mengganggu siapa-siapa. Kecuali mengganggu dosen.”

“Wah, kalau itu kita juga suka kan?” cengar-cengir Tias.

Kami ikutan cengar-cengir sejenak sebelum kembali diganggu oleh rasa takut. Kami harus menemukan apa keinginan hantu Erick atau setan apapun yang telah menakut-nakuti kami. Alisa yang paling sibuk, ia menulis banyak hal di dalam bukunya.

***

Setelah beberapa saat, Alisa beranjak meninggalkan ruangan. Kami tetap duduk dan berpikir, walau kebanyakan yang kami pikirkan adalah rasa ketakutan. Ketika Alisa kembali, ia membawa senampan es krim brownies. Semuanya segera menyerbu brownies itu, tapi aku tetap berdiam. Bukannya aku tidak mau, tapi aku merasa bukan bagian dari mereka.

“Erika, ambil browniesnya?” tawar Alisa padaku.

“Terima kasih,” senyumku sambil mengambil sepotong brownies.

Suasana berubah menjadi lebih nyaman dan kami mulai bertukar ide. Entah berapa banyak hal yang kami lontarkan perihal misteri ini, tapi belum ada yang terasa sesuai dan kami mengambil konklusi mimpi-mimpi itu hanya suatu hal yang abstrak.

“Aku tidak setuju,” kataku.

Semua mata tertuju padaku, menunggu penjelasan.

“Aku hanya merasa itu bukan sekadar mimpi buruk atau terror. Sepertinya ada arti tertentu, mungkin kita bisa bertanya pada adik Erick.”

“Adik Erick? Apa yang akan kita katakan padanya? Kita melihat hantu kakaknya? Itu hanya akan membuatnya tambah berduka,” kata Alisa tidak setuju.

“Adik Erick... Hei tunggu! Itu dia jawabannya!” seru Tias. “Mungkinkah orang-orangan kertas kecil di mimpi Dini adalah adiknya?”

“Apakah Erick ingin adiknya menemaninya di alam sana?” tanya Dini.

“Tentu saja tidak, bodoh! Mungkin ia bermaksud melindunginya,” kata Tias semangat.

“Bisa jadi,” celetuk Alisa. “Boneka yang ingin membunuh Erick lebih besar. Mungkin ada seseorang yang berencana membunuh mereka.”

“Kita harus menemui Erin, adik Erick,” kataku sambil bergegas mengumpulkan data pribadi Erick dan menaruhnya kembali ke dalam map. “Sekolahnya ada di jalan ketupat, kita bisa naik busway kesana.”

“Busway?” keluh Dini ngeri.

“Itu jalur paling cepat. Kalaupun kita bertemu hantu, kita kan ramai-ramai,” sahutku dengan keberanian palsu.

Dengan enggan semuanya bangkit berdiri dan kamipun beranjak dari rumah Alisa. Terminal busway yang terlihat dari kejauhan membuatku mendesah, ada kesan sedih melihatnya, bukan lagi kesan terror. Rasanya seperti berjalan dalam mimpi ketika kami membeli tiket dan mengantri menunggu bus. Kami bahkan tidak sadar telah berada dalam bus, tahu-tahu kami telah sampai di terminal ketupat.

Tepat di jalan ketupat kami menemukan sekolah Erin. Sekolah itu demikian besar, mungkin sebesar kampus kami. Gerbangnya tinggi dengan interkom berCCTV di sebelahnya.

“Apa yang akan kita katakan?” tanya Dini.

“Entahlah, mungkin ibunya sakit?” jawabku asal-asalan.

“Mana dipercaya satu rombongan mahasiswi datang dengan kabar seperti itu,” gerutu Tias.

Kami terdiam di bawah tangga jembatan busway, menatap ke sekolah yang berada tepat di samping jembatan. Tias mulai mondar-mandir dan membaca catatan-catatan di papan buletin sekolah.

“Hei, bagaimana kalau kita melamar menjadi penjaga kantin?” celetuk Tias.

“Tidak lucu deh Tias,” tegur Dini.

“Eh, serius! Lihat nie, ada lowongan kerja sebagai penjaga kantin. “Ga salah kan dicoba?” desak Tias.

Kami ingin menggerutu namun kami tahu waktu kami tidak banyak. Kami merasa menunggu Erin kembali ke rumahnya bukan pilihan, sseorang yang ingin mencelakai Erick dan Erin mungkin berasal dari sana. Berdempet-dempetan dan saling memegang baju satu sama lain kami mendekati interkom. Tias kami paksa berada di depan dan melaksanakan idenya.

“P-p-pagi!” kata Tias gugup.

“Siang neng, ada apa yah?”

“Uh- kami ingin melamar menjadi penjaja, eh penjaga kantin,” jawab Tias. Kami berusaha menahan diri agar tidak cekikikan.

“Lho neng, sebanyak ini?”

“Iya, biar bisa dipilih-pilih gitu lho..” jawab Tias dengan nada jayus.

Kelakuan Tias yang konyol membuat kami gelisah, takutnya orang yang di seberang interkom memutuskan untuk memanggil satpam, atau lebih parahnya lagi memanggil rumah sakit jiwa.

“Ya sudah, masuk. Dari situ ke ruang tata usaha yah, di dalam sudah ada petunjuk jalannya.”

Aku terbatuk menahan tawa. Kami semua terkejut. Empat mahasiswi memasuki gedung sekolah elite dengan berpura-pura hendak menjadi penjaga kantin. Entah apa yang dipikirkan orang di ujung interkom melihat empat gadis berpakaian rapih-rapih melamar menjadi penjaga kantin, bukan sebagai pegawai kantor. Kalau mahasiswa lain mendengar ini, entah bagaimana hebohnya kampus.

Pintu dibuka dengan otomatis. Rasanya seperti memasuki sebuah istana negara dibanding sekolahan. Melangkah ke dalam, tepat di depan kami ada papan elektronik yang menunjukan lokasi-lokasi, canggih seperti milik salah satu mal terbesar di kota. Kami segera menemukan lokasi tata usaha yang ternyata tidak terlalu jauh di sebelah kiri kami. Mendekati kantor tata usaha, kami mulai mendiskusikan langkah selanjutnya.

“Bagaimana sekarang?” tanya Dini.

“Ngga tahu deh,” sahut Tias asal-asalan.

“Ih, Tias bagaimana sih? Kan kamu yang punya cara masuk,” protes Dini.

“Aku akan ke kantor tatausaha, kalian tunggu aku disini,” potong Alisa lalu segera bergerak menuju ruang tata usaha.

Beberapa saat kemudian Alisa telah kembali lagi.

“Ayo, ruang kelasnya di 14C,” kata Alisa.

Kami bergegas mengikuti Alisa. Sekolah ini benar-benar berbeda dengan sekolahku, suasananya terasa glamour dan kaku. Setiap ruang kelas memakai AC dan jendelanya terbuat dari kaca satu arah. Jadi, orang di luar bisa melihat kegiatan belajar mengajar di dalam ruang kelas, namun murid-murid di dalam kelas tidak bisa melamun melihat langit di luar.

“Alisa, bagaimana kamu bisa tahu ruang kelasnya?” tanyaku.

“Aku berpura-pura membawa kabar kalau ibu Erin sakit. Heran juga sekolah sebagus ini mereka tidak mau beranjak untuk memanggil anak itu,” komentar Alisa.

Ketika kami melihat panel ruang kelas 14C, kami menunggu agak jauh. Alisa dengan keyakinannya masuk dan dalam sekejap mampu membawa Erin keluar.

“Gue sudah tahu kalian berbohong, jadi sekarang terangkan kenapa kalian ganggu gue belajar,” kata Erin ketus. Ia menyilangkan kedua tangannya dan kepalanya agak diangkat seakan dia orang penting.

“Eh, dik, yang sopan yah. Kita juga kaga mau kemari kalau kita tidak tahu nyawa adik terancam,” omel Tias.

“Terancam?” tanya Erin.

“Begini Erin, kami yakin ada yang bermaksud buruk dengan dirimu dan almarhum saudaramu Erick,” terang Alisa. Aku berharap anak sombong ini tidak menganggap penjelasan Alisa sebagai omong kosong. Tidak seperti yang kukira, air muka Erin terlihat melembut.

“Oh, pasti kalian yang diminta bantuan almarhum kakak,” kata Erin setengah berbisik. Kami saling berpandangan satu sama lain. “Saya tahu paman saya terus-menerus menekan kakak, tapi waktu itu saya tidak bisa apa-apa. Sekarang paman bermaksud menyingkirkan saya pula, agar anaknya Elvina bisa mendapatkan semua warisan kakek.”

Kami hanya terdiam. Aku terkaget dengan fakta itu, tapi kini segalanya masuk akal. Mimpi-mimpi itu kini masuk akal.

“Besok jam 16 sore datang kemari ya, kalian harus membantu kami. Saya tunggu di depan gerbang,” kata Erin sebelum berbalik kembali ke kelas, meninggalkan kami terdiam di tempat.

“Jadi besok..?” tanya Dini mengambang.

“Tentu saja kita harus kemari, mungkin itu keinginan hantu Erick,” jawabku.

“Ayo, sekarang kita pulang,” ajak Alisa.

***

Kini kami menghabiskan tiap sore berlatih drama di auditorium sekolah Erin. Kami memainkan kisah cerita keluarganya yang menyayat hati. Erin tidak memberitahu kami untuk apa drama ini, apa rencananya, dan ia tidak bisa dipaksa mengatakannya. Ada ambisi di matanya, ditambah dengan teror hantu sebelumnya, kami tanpa bertanya melakukan semua akting yang ia minta. Tapi hari-hari yang aneh ini tidak terlalu melelahkan, kami semua menjadi dekat satu sama lain, kecuali Erin, yang seperti berada di dunianya sendiri.

Pada suatu hari, Erin berkata bahwa kami akan mementaskan drama ini di reuni alumni kampus kami besok.

***

Panggung telah siap. Keluarga Erin sendiri yang membiayai perlengkapan panggung ini. Suasananya seperti realistis dengan pencahayaan yang berkualitas dan latar belakang papan besar bergambarkan rumah mewah dan perabotan asli. Make up kamipun sedemikian profesional hingga kami tidak lagi terlihat seperti mahasiswi-mahasiswi dan seorang gadis SMU. Di belakang panggung, aku merasa gugup. Peranku adalah sebagai si paman yang jahat, sungguh peran yang tidak enak, apalagi dengan kumis gatal yang kini menempel di bawah hidungku. Yang lain juga tidak tenang dan kami semua berpegangan tangan bersama-sama.

Kecuali Erin. Ia duduk tidak jauh dari kami, tapi pandangannya jauh dan kelam. Kurasa ia memikirkan masa lalu. Kami semua tanpa bicara sepakat untuk membiarkannya, ini pasti berat untuknya. Ia memainkan peranan sebagai Erick, walau kami sudah menawarkan untuk mengambil peranan sedih itu. Aku merasa tidak tenang, bau-bauan seperti asap knalpot menggangguku, tapi mungkin itu hanya reaksi dari keraguanku akan drama ini.

Ketika MC memanggil, kami segera bersiap di posisi masing-masing. Alisa, Dini, dan Erin tetap di balik panggung, aku duduk di kursi sambil membaca koran, dan Tias yang menjadi Elvina duduk menonton TV di sofa dengan semangkuk berondong jagung. Penerangan dibuat gelap lalu tirai terangkat dan kami dihadapkan pada para alumni, orang tua mereka, serta para dosen. Seperti yang Erin rencanakan, orang tuanya, Elvina, serta kedua orang tua Elvina ikut menonton. Andai mereka tahu apa yang akan ditampilkan, tentu mereka akan mencegah drama ini. Lagu klasik mulai dialunkan, dan Alisa yang menjadi narator mulai berbicara.

“Alkisah di sebuah kota besar, ada seorang kakek yang sangat kaya. Kakek ini membagikan hartanya kepada kedua anak lelakinya. Kedua anak lelaki itupun membangun keluarga masing-masing. Sayangnya, anak lelaki dari si bungsu terlahir dengan kelainan jiwa.”

Alisa berhenti, membiarkan lagu berubah menjadi sedih. Perlahan lampu kembali terang sementara Alisa melanjutkan narasi.

“Sang paman, hatinya perlahan membusuk karena iri akan kekayaan saudaranya..”

Erick memasuki panggung dengan sebuah bola, aku hampir tidak mengenali kalau ia sebenarnya Erin. Ia memakai pakaian layaknya mahasiswa muda namun ia bermain bola dan meloncat-loncat layaknya anak kecil. Aku sebagai sang paman mulai mendengus dan bergerak-gerak terganggu. Erick berputar mengelilingiku, tetap asyik dengan bolanya.

“Erick!” seruku dengan suara yang diubah teknologi menjadi suara laki-laki. Aku melipat koran dan menghantamkannya ke celana panjangku.

“Hallo paman!” seru Erick cengengesan.

“Dasar idiot!” makiku sebelum kembali membaca koran.

Erick bergerak ke sofa dimana Elvina duduk, ia tampaknya menikmati perannya yang benar-benar makan berondong jagung. Erick celingak-celinguk di belakang Elvina.

“Erick! Menjauh dari Elvina! Nanti kamu menularinya!” seruku.

“Ah paman, ADHD kan tidak menular,” komplain Erick. Erick celingak-celinguk mencari kursi. Tidak ada kursi lain dan Erickpun duduk di lantai, ikut menonton TV. Padahal, sofa tempat Elvina duduk cukup besar untuk bertiga.

Beberapa saat kami membuat penonton merasa suasana itu begitu tenang. Dini yang berperan menjadi Erin masuk.

“Kakak, koq tidak duduk di sofa?” tanyanya pada Erick yang peranannya bergoyang maju mundur di atas lantai. Rasanya ngeri melihat Erin begitu menghayati peranannya.

“Tidak apa-apa,” jawab Erick.

Erin menggelengkan kepalanya lalu duduk di sofa dan ikut menonton. Erick menatap ke sofa beberapa saat lalu ikut duduk di sofa, tepat diantara Elvina dan Erin.

“AAAAAAAAAAhhh!” teriak Elvina.

“Ada apa!?” tanyaku sambil segera berdiri.

“Liur Erick menetes-netes pa, ih jijik!”

“Kamu!” seruku.

Aku mendatangi Erick dengan langkah-langkah besar dan wajah marah sementara Erick terbengong-bengong menatapku. Kugulung koranku dan kutempeleng kepala Erick.

“Sudah kubilang untuk jauh-jauh dari Elvina, dasar orang gila!” makiku. Aku benar-benar merasa tidak enak dengan peran ini. Bisa kulihat paman yang sebenarnya bangkit berdiri hendak memprotes drama ini namun dicegah oleh orang tua Erick.

“Kamu tahu tidak, keberadaanmu di keluarga ini tidak ada gunanya! Kau mencemarkan nama keluarga! Keberadaanmu merusak kewarasan kami semua, terutama adikmu! Aku tidak heran jika ia menjadi sepertimu! Kuliah saja tidak becus!” lanjutku sedikit tersendat-sendat. Kalimat-kalimat ini begitu kejam, aku bertanya-tanya inikah yang dialami Erick tiap harinya.

Alunan lagu menghilang dan auditorium terasa sangat sepi, tidak ada bunyi apapun baik suara manusia ataupun getaran mesin. Ribuan penonton yang memenuhi auditorium terasa tidak nyata, seperti ada plastik buram yang menutup pikiran, hanya keluarga Erick yang menarik perhatian pikiranku. Aku mendapati perasaan tidak enak merayap di punggungku, otomatis aku menoleh ke belakang.

Wajah Erin menjadi sangat mirip dengan wajah Erick. Aku yakin ini bukan efek dari komestik, dan mukanya juga mengerikan, dipenuhi oleh rasa benci. Pelan-pelan aku melangkah mejauh ke arah pinggiran panggung. Mata Erin menatap lurus ke arah pamannya, gelombang dendam yang abnormal membuatku merinding dan gemetaran. Jiwaku panik berusaha lari secepat-cepatnya namun dihalangi tubuh yang diikat rasa takut. Yang lain juga sama, kami semua menjauh dari Erin, walau masih enggan meninggalkan panggung.

Erin perlahan meraih korek api gas dari sakunya. Detik-detik berlalu bagai berjam-jam, walau kami dapt menebak apa yang akan ia lakukan. Ia mengacungkan korek api itu di depan mukanya lalu menekannya.

Sekali, percikan api muncul sesaat.

Sekali lagi..

Sekali lagi.. lalu api menyambar wajahnya dan dengan kecepatan luar biasa melahap tubuhnya. Aku ingin berteriak tapi suaraku tertahan. Tubuh Erin meleleh namun ia tetap bergerak dan turun dari panggung. Penonton tiba-tiba tersadar dan segera lari tunggang langgang hingga banyak dari antara mereka terinjak-injak. Keluarga Erick juga panik, namun usaha mereka membentur dinding tak kasat mata. Mereka memukul-mukul dinding tak kasat mata itu sambil berteriak minta tolong, namun tidak ada yang peduli, semua ingin segera keluar dari gedung itu. Paman Erick berusaha meninju dinding itu dan tidak berhenti walau tangannya mulai terluka dan berdarah.

Makhluk Erick-Erin itu semakin dekat dengan mereka. Tidak ada yang dapat melukiskan ketakutan di wajah mereka tapi aku rasa wajah penuh dendam yang meleleh Erick-Erin dan perasaan bersalah mereka yang membuat mereka sedemikian panik. Para ibu di keluarga itu berlutut memohon ampun sementara ayah Erick berusaha bernegosiasi dengan suara yang terbata-bata dan kacau. Elvina mendorong ayahnya agar berusaha sekeras mungkin, sementara sang ayah terus memukuli dinding tanpa peduli darah di tangannya telah bercipratan ke mana-mana.

Api telah melahap tirai, sebagian kursi, dan mulai mencakari beton. Walau tidak ada korban jiwa selain Erin, seluruh api itu membawa bau daging busuk yang terbakar. Aku merasa mual dan perasaan itu menjebatani tubuhku dengan pikiranku. Aku membelakangi Erick-Erin dan menatap teman-temanku.

“Ayo kita segera lari dari sini!” seruku.

Tampaknya mereka juga telah terbebas dari rasa takut yang tidak normal dan bersama kami berusaha menghindari perabotan-perabotan dan lantai papan yang terbakar, menuju bagian belakang panggung. Sebelum kami bergerak kesana, aku menyempatkan diri menengok ke belakang. Keluarga Erick berhasil lepas dari kurungan mereka namun kaki Elvina dicengkram oleh makhluk jadi-jadian Erick-Erin. Api kutukan memakan kakinya hingga membusuk, usaha Elvina untuk melepaskan diri membuat kakinya terlepas dari tubuhnya.

Anggota keluarga Erick lainnya hanya diberi harapan semu. Mereka hanya beberapa langkah dari pintu ketika jalanan di luar berlonjak-lonjak dan mengelupas, menunjukan tanah berwarna hitam. Roh-roh hitam keabu-abuan yang hanya berupa tulang dibalut kulit merayap keluar dari balik kulit-jalanan, mendekat dengan kaki tangan mereka. Mata mereka kosong sementara mulut mereka terbuka lebar. Ukurannya bervariasi dari bayi hingga kakek-kakek. Jumlahnya sangat banyak, membuatku mengerti mengapa kematian bisa demikian mengerikan.

Tias menarik tanganku, menyadarkanku kembali ke realita di sekitarku. Api dan bau busuk dimana-mana hingga kami kesulitan untuk melangkah. Pada akhirnya ketika kami sampai di pintu keluar belakang yang terbuat dari besi, pikiranku bertanya, bagaimana jika roh-roh penasaran telah menunggu di luar?

***

Tahun-tahun berlalu. Aku sudah tidak tahu lagi apakah ingatan itu nyata atau sekadar khayalanku. Berita tentang satu keluarga milyuner yang mati terbakar di auditorium memang aneh, walau tidak ada yang menyebut penampakan atau kejadian paranormal. Satu keluarga, yang namanya semua dimulai dengan huruf E, bisa menjadi satu-satunya korban di sebuah acara reuni yang menampung ribuan orang.

Aku kembali berkonsentrasi ke dunia nyata dan menuliskan nama universitas itu di formulir lamaran kerja. Setelah selesai memeriksa kembali semuanya, aku menyerahkan formulir tersebut ke seketaris. Seketaris itu masuk ke dalam kantor kepala perusahaan dan meninggalkanku di ruang tamu. Beberapa saat kemudian ia keluar dan mempersilahkanku untuk masuk.

Calon bosku sedang melihat ke luar jendela, memunggungiku. Salah satu lagu Evanescence mengalun pelan dari sebuah stereo besar di pojok. Aku memutuskan untuk menunggu dan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, banyak mainan unik memenuhi rak-raknya, dan sebuah bola di lantai, mungkin ini caranya untuk meraih inspirasi.

©Amethyst Orchard 2004 - 2009.