Dota Nightmare (In Indonesian Language)

Cukup sudah, aku tidak mau peduli lagi dengan tuntutan mereka; makiku dalam hati sementara layar di hadapanku menampilkan gambar loading yang sudah begitu akrab. Aku akan tetap disini bersenang-senang dan melupakan semua masalah yang dunia paksakan padaku. Aku tidak tahu berapa puluh jam aku telah duduk disini tapi aku tidak peduli. Aku juga tidak percaya dengan kepedulian orang lain, mereka hanya sekadar basa-basi atau membutuhkanku.

Menunggu loading yang lama, kuputuskan untuk berbaring sejenak. Setelah beberapa kali mata melirik bar loading berwarna biru, aku memejamkan mata. Toh suara permainan yang mulai akan membangunkanku. Aku lelah tapi merasa cukup bahagia, setidaknya di dalam game aku bisa menentukan keputusanku sendiri. Lepas dari rantai paksaan dan tuntutan.

***

Suara permainan memang membangunkanku; suara kokok ayam yang khas dan musik pengiring, tapi aku tidak berada di atas kursiku. Kaos dan celana panjangku yang lusuh menjadi lembab dan tanganku bisa merasakan rumput segar dibawahnya. Aku bangkit berdiri sambil mengucek dan mengerjapkan mata, menunggu hingga mata dan pikiranku kembali bangun sepenuhnya.

Aku mendapati diriku berdiri di depan sebuah pohon tua yang sangat tinggi dan besar hingga seakan hendak memenuhi langit dengan dedaunan hijaunya. Di kedua sisinya tertanam dua pohon lain layak pengawal, lebih kecil dan berbentuk tidak wajar. Kedua pohon itu seperti memiliki wajah lengkap dengan sepasang mata kuning yang berkilat hidup dan cabang-cabangnya membentuk sepasang tangan kekar yang sigap.

Aku melayangkan pandangan ke sekelilingku dengan terpesona, dimana bangunan-bangunan asing dan eksotik lainnya menghuni hamparan rumput hijau. Beberapa saat kemudian, suara terompet tanduk menggaung dari kejauhan. Prajurit-prajurit pohon dan manusia-manusia bertelinga lancip yang berjubah aneh berbaris keluar dari dalam gedung-gedung eksotik dengan wajah siap tempur.

Ini dunia DotA! takjubku setelah menyadari prajurit-prajurit pohon itu adalah treant dan manusia-manusia bertelinga lancip itu adalah night elf druid. Aku pasti tertidur dan sedang bermimpi. Benar-benar luar biasa, gumamku sambil mengelus batu halus yang membentuk salah satu moon well. Sumur khas night elf ini ternyata dihiasi ukiran-ukiran huruf yang tidak kukenal dan ornamen dari kayu yang dicat indah. Airnya jernih dan berkilau seperti air berspesial efek yang ditampilkan di iklan-iklan, aku bisa melihat mukaku yang pucat dan rambutku yang acak-acakan.

Sesosok bayangan lain dipantulkan air tersebut dan aku segera berbalik. Di hadapanku kini berdiri sosok night elf tua dengan jubah agak lusuh yang kukenali sebagai Furion, sang Prophet. Sosok kuat yang terlihat bijak dan begitu lelah itu menatapku diam, seakan menegur.

“H –hai!” lambaiku gugup berusaha berkomunikasi.

Pria tua yang tinggi itu tetap diam membisu, tangannya kini terangkat dan menunjuk ke arah timur. Mengikuti arah jarinya, kurasa ia memintaku bergabung dengan pasukan di ‘line kanan’ medan tempur. Aku kembali menoleh ke arahnya, mendapati wajahnya berkerut tidak sabar. Tatapan matanya yang kuning tak berpupil mendorong pikiranku lalu kakiku untuk bergegas lari menyusul para pejuang.

Aku bahkan tidak sadar sudah lari seberapa lama ataupun seberapa jauh. Kedua kakiku sakit dan paru-paruku serasa terbakar ketika akhirnya aku berhenti terengah-engah di sisi ‘tower’ pohon paling ujung pertahanan para sentinel. Sambil mengatur nafas aku memandang ke depan, dimana pasukan sentinel yaitu para treant dan druid bertempur melawan pasukan scourge yang terdiri dari para undead ghoul dan necromancer.

Dalam mimpi yang seperti nyata dan mendetail inilah aku baru sadar kalau para ghoul itu makhluk yang mengerikan. Wujud bungkuk mereka seperti daging busuk dibalut kulit tipis dengan cakar-cakar kuning besar setajam pedang. Wajah mereka sangat buruk hingga hampir tidak mirip manusia dan dienuhi belatung, mata mereka kosong, rambut mereka tinggal beberapa helai, dan mulut mereka dipenuhi taring-taring kuning tak beraturan.

Para necromancer terlihat lebih manusiawi, seperti kumpulan kakek-kakek berjanggut bertampang keji dan ambisius dalam kostum haloween. Tengkorak kambing bertanduk menutupi bagian atas kepala mereka dengan mantap. Jubah merah mereka berkibar liar sementara mereka merapal mantra serangan dengan tongkat kelelawar mereka.

Dari sisiku, para prajurit pohon terlihat tidak berjiwa, mengingatkanku pada sebagian besar orang dewasa yang bekerja layaknya robot. Mengimbangi kebrutalan tanpa takut para ghoul, para treant ini seperti tidak merasakan sakit ketika tubuh mereka dikoyak. Sementara para druid berperang dengan kebanggaan berlebihan, terpancar jelas dalam mimik mereka dan pakaian penuh ornamen yang mereka kenakan di balik jubah bulu burung. Tapi, selayak di game, mereka juga terlihat bijaksana dan tidak segegabah saudara mereka high elf.

Bau busuk samar memenuhi udara bersamaan degan angin yang bertiup dari utara. Rasa sakit menyengatku ketika sabit berkarat melesat mengoyak perutku dan menarikku menembus pepohonan cemara. Bau nanah dan daging busuk menyengat dari sosok besar di depanku, bahkan dalam kesakitanku bau itu terasa begitu tajam dan sangat mengganggu.

Makhluk besar itu sosok menjijikan dengan kulit dijahit dan isi perut yang keluar. Sang butcher menatapku dengan lapar, mulutnya yang bau terbuka, memperlihatkan rangkaian gigi kuning tak beraturan dan menebarkan lebih banyak bau busuk memuakkan yang membuatku mual dan tambah tidak berdaya.

Sebuah tombak menembus kepala sang monster sebelum ia sempat menggigit wajahku. Pudge sang butcher menjatuhkanku ke tanah lalu menarik lepas sabit berantainya dengan paksa. Seakan tidak merasa sakit, ia menarik lepas dan membuang tombak yang menancap di kepalanya lalu mengejar elf berbadan rusa pemilik tombak tersebut dan keduanya pun menghilang di balik bayangan pepohonan.

Sebelum rasa sakit merenggut kesadaranku, Enchantress itu telah kembali berada di sisiku. Ia melantunkan lagu yang lebih indah dari lagu manapun yang pernah kudengar. Lagu itu menyelimuti diriku dan benakku seperti berkas-berkas sinar lembut dan hangat berwarna merah muda. Dalam sekejap luka di perutku sembuh dan aku merasa sehat kembali.

"Kau akan baik-baik saja sekarang," kata Aiushta sang Enchantress dengan suaranya yang merdu dan terasa mirip dengan kelembutan sihirnya.

Melodi yang menari di benakku membuatku terbengong diam dalam takjub selama beberapa detik sebelum aku berhasil mengangguk dengan canggung. Aiushta menyunggingkan senyumnya yang manis dan membuatku tambah takjub sebelum kaki-kaki rusanya yang ramping berbalik hendak pergi.

Sinar putih mendadak membutakanku dan menghentikan lamunanku. Ketika aku membuka mata, aku mendapati sang enchantress telah jatuh berlutut dengan kaki terluka parah dan tertekuk aneh, mungkin patah. Melihat sosok secantiknya tiba-tiba harus terluka membuat darahku mendidih.

"Kenapa kau berkhianat Ezalor!?" pekik Aiushta sedih ke arah sosok yang duduk tenang di atas kudanya agak jauh di depan kami.

Melihat wujud proa tua dan kudanya yang hampir transparan seperti hantu, aku mengenali sosok itu sebagai Keeper of the Light Ezalor. Penyihir tua itu tergelak dan memandang rendah kami berdua.

"Apa yang bisa kalian tawarkan padaku, night elf- night elf lemah? Kalian tidak pernah mengerti seni dan kekuatan sihir sesungguhnya, mengisolasikan diri kalian di dalam hutan selama beribu-ribu tahun dan melestarikan segala sumber sihir seperti barang bersejarah. Ucapkan selamat tinggi pada hutan bermainmu, rusa kecil!"

"Tidak secepat itu!" gelegar suara pria di belakang kami.

Furion telah datang bersama Darchrow si Enigma yang menyeramkan. Entahlah mengapa Enigma yang senang menelan apa saja dan dipenuhi sihir hitam direkrut oleh Sentinel, mungkin karena ketakutan yang ditimbulkan makhluk misterius itu. Sosok gas pekat berwarna biru kehitaman sepert ilangit malam itu melirikku sejenak dengan mata berapi-apinya.

Ezalor tidak bergeming dan tetap memandang kami dengan seringai meremehkannya. Aku menyadari akan ada pertarungan besar jadi perlahan-lahan aku mundur ke arah pepohonan, berharap aku sempat berlindung tanpa ada yang memergokiku.

Baru saja aku mencapai bayangan pepohonan pertama ketika sebuah pekikan memekakkan telinga membuatku terbirit-birit dan terguling-guling ke dalam sesemakan berduri di antara pepohonan. Telinga dan kepalaku terasa sangat nyeri smpai sulit bagiku untuk bangun dan melihat apa yang terjadi.

Semestinya aku tidak berusaha melihat apa yang terjadi. Di puncak salah satu pohon sesosok wanita kelelawar penuh duri besar di beberapa bagian tubuhnya menyeringai puas. Aku mengenalinya sebagai Akasha, queen of pain dan teriakannya membuat Furion tersungkur sambil memegangi kepala.

Mata iblis Akasha berkilat kejam dan seringainya bertambah lebar ketika Darchrow si Enigma merapal mantranya. Sebuah titik hitam muncul di depannya, seakan dunia tiga dimensi ini hanyalah sebuah lukisan yang terkena noda. Noda hitam itu membesar, kekelaman di dalamnya mengingatkanku akan langit malam tanpa bintang.

Lalu lubang hitam itu menarik Aiushta dan Furion masuk sementara tawa jahat Ezalor dan Akasha memenuhi udara, kini aku tahu apa yang dimaksud dengan tawa iblis. Aiushta menangis memohon-mohon sementara Furion tetap diam walau sebenarnya keduanya menanggung rasa takut yang sama. Kurasa aku tidak akan pernah lupa wajah mereka namun aku juga sadar aku tidak berdaya menolong mereka.

Jadi aku berlari pergi, ingin lari dari wajah-wajah yang kecewa dan putus asa sambil terus mengulangi kalmat 'tidak ada yang bisa kuperbuat' pada diriku sendiri. Tapi bayangan wajah-wajah itu tidak bisa hilang dari benakku dan suara-suara mulai menyalahkanku, mulai dari suaraku sendiri hingga mereka yang menuntutku di alam nyata.

"Ini hanya mimpi buruk!" teriakku memecah kesunyian dan berhenti berlari. Aku mulai memukuli diriku sendiri sekeras mungkin, tanpa peduli rasa sakitnya. Tapi aku tidak terbangun!

Tentu saja kau tidak terbangun, ini bukan mimpi, bodoh!

Mimpi tidak akan terasa sakit atau lelah...

Tamatlah riwayatmu!

Aku berlutut dan menangis tersedu-sedu, tidak peduli lagi bahwa semestinya seorang pria tidak menangis. Sekarang aku rindu kehidupan normalku beserta segala tuntutannya. Juga menyesali tindakan-tindakanku yang tidak mempedulikan orang lain. Sekarang aku terjebak dalam mimpi buruk ini, tanpa pernah benar-benar mencintai, tanpa pernah mensyukuri cinta pernah diberikan padaku. Yah, aku hanya pecundang yang egois, tidak pernah puas, dan lemah.

Aku masih sangat putus asa tapi sudah sedikit tenang dan mulai memperhatikan sekelilingku. Lumpur kental yang lengket berbuih menahanku tetap berlutut sementara ribuan bayangan mengurungku dalam keputusasaan. Semak belukar meliuk-liuk bagai ular-ular lapar. Tumbuhan menjalar meliliti pohon-pohon hingga tercekik dan menggapai putus asa ke langit seperti tangan-tangan yang kurus kering dan tua. Langit yang kelabu dan kelam menolak memberikan perlindungan, menekan dan membatasi semua yang berada di bawah naungannya.

Di antara pohon-pohon merana, dua sosok gelap menatapku kosong. Sosok-sosok hantu itu perlahan tampil nyata, lengkap dengan wajah-wajah yang penuh ketakutan dan kekecewaan. Angin dingin melolong-lolong, pohon-pohon berderak, dan ribuan bayangan berdansa dan mengurungku dalam melodi kematian. Aku tidak mampu berdiri sementara sosok Furion dan Aiushta yang telah tampil nyata melangkah maju dengan tatapan bertanya 'mengapa?'.

Kedua sosok itu mengangkat tangan mereka dengan jari-jari melengkung hendak mencengkram. Kulit mereka berkedat-kedut lalu belatung-belatung menerobos keluar sementara tubuh mereka membusuk dan mengkerut dengan kecepatan yang sangat tidak wajar. Bahkan ketika wajah mereka tinggal belatung dan daging busuk, mata mereka yang menjorok ke dalam tetap menyalahkanku.

"Aku bukan pengecut! Kalian memang tidak terselamatkan!" teriakku marah bercampur takut lalu bangkit berdiri dan berlari tanpa menoleh ke belakang.

Aku tahu aku berbohong pada diriku sendiri. Aku hanya pengecut yang terus berlari. Tapi memang aku tidak punya alternatif lain kah? Mereka bukan siapa-siapa bagiku, mengapa harus mengorbankan diriku?

Hal yang selalu kau lakukan di dunia nyata.

Aku baru saja hendak memprotes ketika pikiranku tiba-tiba kosong seakan otakku memutuskan untuk menyelinap pergi. Yang aku tahu hanya jauh di dalam kekosongan benakku yang gelap ada sosok ketakutan teramat besar yang sedang merayap naik.

Mulutku terasa kering, lidahku kelu, keringat dingin membanjir, nafasku sesak, dan jantungku berdetak sangat kencang hingga terasa akan melompat keluar. Aku terdiam di tempat sementara mataku memandang tanah dengan gelisah, dimana bayangan kegelapan mencengkramku. Rasanya saat ini nyawa dan jiwaku lebih rentan daripada selembar kertas.

Dari jalur bayangan muncul Mercurial si Spectre dan pikiranku kembali terisi dan meneriakan kengerian yang tertahan. Secara reflek aku kembali berlari, jauh lebih panik dari sebelumnya, menerobos semak belukar dan cabang-cabang pohon tanpa peduli pakaian dan tubuhku tersayat-sayat. Aku ingin mencari tebing tinggi dan terjun, menghabisi semua ketakutan ini.

Tapi mungkin sudah digariskan bahwa apapun yang kuharapkan tidak akan terwujud. Ketika akhirnya aku menghembuskan nafas lega karena kakiku tidak menginjak tanah, benang-benang lengket melekat dan menahanku. Ketika aku berontak benang-benang itu tambah menjeratku dan akalku yang tersisa menampilkan salah satu pelajaran biologi masa SMU tentang jaring laba-laba.

Laba-laba kecil tidaklah mengerikan. Melihat wajah laba-laba dari kaca pembesar cukup mengerikan. Tapi kau tidak bisa membayangkan betapa ngerinya ditatap laba-laba sebesar truk dan betapa tak berdayanya terikat di sarangnya-- benang-benang berkilat perak di tengah kegelapan hutan.

Setidaknya sebentar lagi aku akan mati dan semua ini berakhir, pikirku. Broodmother telah berada di depanku dengan delapan mata kecil bengisnya menatap senang. Monster itu menggigit bahuku, racun segera merambat ke seluruh tubuh dan membuat semua syaraf rasa sakitku bekerja dan menyiksaku dari dalam.

Lalu Broodmother meninggalkanku dengan rasa sakit, darah yang mengucur dari bahu, dan demam. Tapi aku tidak mati dan tergantung-gantung di belitan jaring keputusasaan hingga terlalu lelah untuk berteriak.

Pada akhirnya kau tidak bisa lari lagi.

Sudahlah, aku lelah bertarung dan berlari.

Kapan tepatnya kau bertarung?

Pertanyaan itu tidak sempat kujawab karena luka di bahuku berdenyut-denyut seperti sesuatu hendak menerobos keluar dari dalam. Aku terbelalak ngeri ketika sebuah kaki laba-laba melesat keluar dari bahuku disusul kaki-kaki lainnya lalu menarik keluar tubuh laba-laba sebesar kepalan tangan. Sudahlah, aku sudah cape berteriak ataupun berusaha membebaskan diri. Tidak memedulikan nyeri gigitan-gigitan si anak laba-laba, aku mengurung diri dalam pikiranku.

Kau hanya bertarung untuk melepaskan ketakutan dan kepengecutanmu, membiarkan semua itu menguasaimu, dan membawamu lari.

Ya, benar... sudah tidak ada gunanya lagi menyangkal kepengecutanku. Ketika rasa takut kembali menghampiriku, tanda bencana berikutnya dimulai, aku berdiam diri dan menunggu.

Aku tidak bisa melihat wujud makhluk di bawahku, tapi aku bisa merasakan keberadaannya hingga rasanya bisa melihat sosok hantu manusia setengah rusa dengan muka penuh penderitaan dan hasrat untuk membuat makhluk lain lebih menderita. Aku bisa 'melihat' matanya yang berbinar-binar karena menemukan calon korban diatasnya.

Aku menebak makhluk itu adalah Leshrac the Malicious sang Tormented Soul dan aku hapal tiap jurusnya yang mematikan. Aku tidak kaget ketika energi mengoyakku dari segala arah, luar dan dalam, dan kali ini aku berusaha bertahan dari rasa sakit. Laba-laba kecil di bahuku lumat tercabik begitupun dengan jaring-jaring yang membelitku.

Entah kekuatan hidup darimana, aku lekas berontak dari jaring-jaring yang telah rusak tersebut dan jatuh tepat di atas Leshrac-- menembus tubuh hantunya yang terkejut, cukup lama untukku berlari pergi.

Lari dan lari, aku bahkan tidak tahu untuk apa. Lari terus menembus hutan gelap dengan gerombolan pepohonan mati yang menatapku penuh dengki, berharap memiliki kaki sepertiku. Akar-akar mereka sengaja merintangiku agar terjatuh tapi aku tetap terus berlari walau tubuh terasa hancur lebur.

Akhirnya kau lari hanya untuk menemui kesulitan lebih besar.

Aku berhenti dan terpana. Tidak ada gunanya berandai-andai tapi sebenarnya ada jalan lain jika aku berhenti ketakutan dan mengambil resiko. Seakan menjawab tekad yang baru kubangun, aku melihat sosok berkerudung di antara pepohonan tidak jauh di depan. Kalau... aku bisa mengambil resiko dalam bermain game, seharusnya sekarang aku berpikir seperti saat itu, karena ini tetaplah dunia DotA.

Di samping sosok berkerudung itu tergantung berbagai benda pada paku-paku besar yang menancap di salah satu pohon. Aku meraih pedang putih berkilau berornamen batu safir, ini pasti sacred relic. Sosok berkerudung itu mengulurkan tangannya, menagih gold yang aku tidak miliki.

"Aku kembalikan nanti!" tegasku sambil lekas berlari.

Langit bertambah hitam dan dipenuhi guntur kemurkaan. Pohon-pohon menghentak-hentak berisik seakan protes dan mengataiku bodoh sementara akar-akar dan cabang-cabang mereka terus saja berusaha menghambatku. Semak belukar berusaha membelitku dan tanah lumpur menyedot tenagaku.

Kau ragu? Kau takut?

Ya, aku ragu dan takut, juga sangat lelah dan penuh luka tapi ini sudah harus berhenti. Jika mereka ingin menyiksaku lagi, kali ini setidaknya mereka juga akan terluka. Jika aku harus lari, kali ini aku lari menembus mereka. Jika aku harus kalah, setidaknya sedikit lebih terhormat.

Tapi tentu saja hal itu tidak semudah bualanku. Ziggurat scourge --menara batu mirip kerucut yang dipenuhi dengan tumpukan tulang-- melontarkanku keluar berkali-kali, menambah memar dan membuka kembali luka-lukaku. Nyaliku mulai surut ketika melihat lawan-lawanku menunggu di bawah Frozen Throne... Pudge, Ezalor, Akasha, Darchrow, Mercurial, dan Leshrac the Tormented Soul. Bahkan Broodmother menunggu agak jauh dari mereka, si laba-laba rakasasa dengan jaring-jaring mautnya... Jelas mereka akan menghadangku begitu aku berhasil melewati Ziggurat.

Mungkin lebih baik berlari kembali ke kubu sentinel, pikirku pahit. Namun karena ketakutan tidak lagi menguasai benakku, aku menyadari tidak ada lagi 'hero' tersisa di kubu sentinel. Kubu scourge memiliki lima hero yaitu Pudge, Akasha, Mercurial, Leshrac, dan Broodmother. Kubu sentinel telah kehilangan dua hero Furion dan Aiushta dan dikhianati dua hero Darchrow dan Ezalor. Satu hero yang tersisa di kubu sentinel jika bukan diriku sendiri, mungkin sudah dikalahkan juga.

Sudah terlambat untuk kembali.

Jadi aku tidak peduli ketika akhirnya aku membulatkan tekad menembus Ziggurat hanya untuk menjadi sasaran empuk lawan-lawanku. Aku tidak peduli ketika tubuhku dipenuhi telur beracun broodmother dan tangan kiriku direnggut lepas oleh butcher atau ketika salah satu jurus Leshrac menyiksaku habis-habisan sementara teriakan Akasha dan bayangan Mercurial menelan benakku. Walau yang bisa kulakukan selama itu hanya berulang-ulang tersungkur dan berusaha bangkit.

Pada akhirnya mereka semua mundur dan Darchow maju menghampiriku. Darchrow mengangkatku hingga mataku bertemu dengan matanya. Makhluk yang berasal dari pecahan bintang mati itu tidak memiliki mikmik, tapi matanya yang berapi-api tidak wajar menunjukkan kebengisan, dan kurasa aku melihat kekosongan di dalamnya. Ia yang menelan aliansinya sendiri, pastilah tidak mempercayai siapa-siapa hingga demikian kosong.

Seperti dirimu...

Jika aku keluar dari sini, aku akan berubah. Setidaknya belajar berubah. Orang-orang itu tidak seberbahaya monster-monster ini. Mungkin pula mereka hanya tidak mengerti akan tindakan dan keegoisan mereka, seperti diriku. Ah, setidaknya mereka tidak senang menyiksa dan membunuh seperti makhluk-makhluk ini.

Jadi aku balas menatap Darchrow, menantangnya. Ia melemparku ke tanah dan Sacred relic hampir saja terlepas dari tanganku. Aku segera bangkit, menggenggam pedang itu erat-erat dengan tangan yang tersisa, lalu menerjang ke arahnya. Aku tidak pernah berhasil mendekatinya, sihirnya membuat tubuhku terhenti berkali-kali juga melukaiku dengan sayatan-sayatan yang tak terlihat.

Ketika hal itu tidak membuatku mundur, ia mengeluarkan jurus lainnya yang mencabik-cabik tubuhku dan menguras sisa tenagaku hingga akhirnya aku tersungkur dan tidak mampu bangkit lagi. Dalam kondisi kehabisan tenaga ini, rasa sakit tidak separah sebelumnya tapi benakku putus asa, mulai kembali dikuasai ketakutan akan apa yang mereka hendak perbuat padaku. Aku bertanya-tanya mengapa aku sampai harus mengalami mimpi buruk ini dan rindu orang-orang di kehidupan normalku.

Mungkin aku tidak akan pernah kembali. Dan tampaknya mereka terlalu senang menyiksaku sehingga tidak akan membiarkanku mati. Mungkin juga memang tidak bisa mati disini... Aku belum mati walau tangan kiriku sudah tidak ada dan darah mengucur deras dari bahuku, belum dihitung dengan luka-luka lainnya, entah bagaimana rupaku sekarang. Tetap tersungkur di tanah berlumpur dengan Sacred relic tetap di genggamanku, walau sudah tidak kugenggam dengan erat.

Darchrow membisikkan mantra mautnya dan sebuah titik muncul tidak jauh di depanku. Black hole… lubang hampa… entah apa yang akan terjadi jika aku tersedot kedalamnya. Yang pasti aku mulai dipenuhi kengerian dan putus asa. Tapi tidak menyesal sudah sampai disini.

Aku masi bisa melakukan sesuatu… bisik pikiranku. Mengikuti tekad membara dari hati aku melompat, menerjang ke depan dengan Sacred Relic terhunus. Entah darimana asal kekuatan ini, aku berhasil melewati black hole yang baru setengah terbuka dan menghujam Darchrow. Api di matanya segera menghilang seperti lilin yang ditiup hingga padam lalu tubuhnya meledak menjadi serpihan-serpihan kecil yang berpendar indah. Aku terbengong sejenak tidak menyangka bisa mengalahkannya.

Setelah beberapa detik berharga kuhabiskan dengan tertegun, aku menyadari di belakangku para hero scourge yang lain pasti murka. Setidaknya sementara mereka masih terdiam dalam kemurkaan, aku harus bertindak. Aku menatap the Frozen Throne yang dingin lalu berlari sekuat tenaga sambil berteriak.

Tapi sebelum Sacred Relic sempat menyentuh Frozen Throne, aku merasa tubuhku tiba-tiba berhenti, melayang dalam kehampaan. Lalu pikiranku terasa mengambang dan aku tidak merasakan segala rasa sakitku, bahkan tidak merasakan tubuhku. Aku melihat tubuhku sendiri perlahan terjatuh seperti efek slow motion di film hingga tersungkur. Sacred Relic terlepas dari tanganku dan berdentang seperti lonceng. Lalu segalanya menggelap dan sisa dari diriku terasa menguap.

***

Mimpi buruk yang terjadi waktu itu terasa seperti bayang-bayang samar dalam benakku. Segala ketakutan dan rasa sakitnya seperti terjadi pada orang lain bukan padaku. Tapi aku ingat sekali perjuanganku menggapai tekad bulat. Sekarang aku bukan diriku yang dulu, bukan diriku yang berlari menghindari kewajiban dan tuntutan dunia nyata. Tapi aku juga tidak membiarkan segala kewajiban dan tuntutan itu mengekangku sepuasnya. Kini, aku menetapkan intregritas bagi diriku sendiri, dan menyadari sepenuhnya apa yang aku inginkan dan perlukan. Jika ada orang yang mau mendorongku keluar dari intregritasku, mereka tidak akan berhasil, aku sudah lebih kuat sekarang. Jauh lebih kuat.

Aku masih bermain DotA, jika teman-temanku mengajakku. Yah ada rasa takut dari benakku yang terdalam terhadap DotA tapi aku tidak akan membiarkan ketakutan menguasaiku hingga aku harus menjelaskan keanehan tingkahku pada teman-temanku. Cuma aku tetap bergidik dan tidak bisa berkonsentrasi jika lawan memakai hero-hero yang pernah menyiksaku. Dan aku masih ingat telah mengambil Sacred Relic tanpa membayar, rasanya pedagang itu kini menatapku dari dalam game.

Presented especially for Emporium Gamers Community

©Amethyst Orchard 2004 - 2009.